BERITA TERKINI
Mirae Asset: IHSG Masuk Fase Distribusi, Risiko Stagflasi Masih Rendah Namun Perlu Diwaspadai

Mirae Asset: IHSG Masuk Fase Distribusi, Risiko Stagflasi Masih Rendah Namun Perlu Diwaspadai

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar saham domestik mulai memasuki fase distribusi di tengah meningkatnya risiko stagflasi, meski bursa saham global mencatat rebound yang kuat. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang disertai arus keluar dana asing dinilai mencerminkan tekanan domestik yang kian dominan di tengah ketidakpastian global.

Pada perdagangan terbaru, IHSG melemah 0,6% ke level 7.048 dengan catatan foreign net sell sekitar Rp1,2 triliun. Arus keluar tersebut terutama terjadi pada saham perbankan besar seperti BBRI dan BBNI, serta saham komoditas seperti BRMS dan BUMI.

Kondisi ini berlawanan dengan penguatan indeks global seperti Dow Jones dan S&P 500, yang menunjukkan divergensi pergerakan pasar semakin lebar. Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyebut kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran USD118 per barel menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar.

Rully menilai keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi penting untuk menjaga inflasi dan daya beli, namun kebijakan tersebut berpotensi menekan ruang fiskal. Ia juga menyampaikan bahwa bias sell-on-strength masih relevan pada saham perbankan besar dan sektor siklikal, sementara peluang relatif lebih menarik pada saham defensif dengan fundamental kuat dan eksposur domestik.

Menurut Rully, pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi dinamika arus dana asing dan sentimen global. Fase distribusi saat ini mengindikasikan IHSG masih berpotensi melemah hingga kisaran 7.005, dengan level support kritikal yang perlu dicermati berada di area 6.892.

Sementara itu, analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menyebut pemerintah tengah menyiapkan paket kebijakan untuk meredam volatilitas global, termasuk efisiensi fiskal, pengaturan WFH, serta penyesuaian kebijakan energi. Menurutnya, kebijakan tersebut diperkirakan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat.

Jessica menambahkan, kombinasi penghematan anggaran, optimalisasi belanja, dan perbaikan administrasi pajak berpotensi menjaga defisit tetap terkendali bahkan dalam skenario harga minyak tinggi. Dari sisi inflasi, Mirae Asset memproyeksikan inflasi Maret 2026 sebesar 3,8% secara tahunan (year on year/YoY), menurun dari bulan sebelumnya, meski risiko kenaikan tetap ada akibat faktor musiman dan tekanan energi.

Menurut Jessica, kebijakan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi turut membantu menjaga inflasi dan daya beli masyarakat dalam jangka pendek. Ia memperkirakan probabilitas Indonesia memasuki fase stagflasi saat ini berada di kisaran 5–10% dan masih relatif rendah, didorong tekanan inflasi yang bersifat musiman serta dukungan kebijakan fiskal, termasuk kebijakan penahanan harga BBM. Namun, risiko dapat meningkat apabila tensi geopolitik berlanjut dan mendorong harga energi lebih tinggi.

Di pasar keuangan, yield SBN 10 tahun disebut relatif stabil di kisaran 6,86% dan nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp16.995 per dolar AS, meskipun tekanan eksternal masih tinggi. Kondisi ini dinilai memperkuat indikasi bahwa ruang penurunan suku bunga domestik semakin terbatas.

Mirae Asset juga menyoroti potensi eskalasi konflik global yang dapat mengganggu pasokan energi, termasuk di Selat Hormuz, sebagai guncangan besar bagi ekonomi global dan pemicu volatilitas pasar. Indonesia dinilai rentan mengingat ketergantungan pada mitra dagang utama yang turut terdampak.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Mirae Asset merevisi proyeksi makro ke arah lebih defensif. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5% dalam dua tahun ke depan, disertai nilai tukar yang masih relatif lemah dan suku bunga yang cenderung bertahan tinggi. Rully menambahkan, koordinasi kebijakan yang belum sepenuhnya sinkron turut meningkatkan sensitivitas pasar, sehingga persepsi pasar terhadap konsistensi kebijakan menjadi krusial karena dapat memengaruhi volatilitas dalam jangka pendek.