Mirae Asset Sekuritas Indonesia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi sekitar 5%. Penyesuaian ini dilakukan seiring meningkatnya tekanan global dan domestik yang dinilai semakin membatasi ruang ekspansi ekonomi nasional.
Chief Economist sekaligus Kepala Riset Mirae Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyebut eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mengubah secara signifikan prospek ekonomi global. Menurutnya, risiko krisis energi kembali mencuat dan berpotensi menekan pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.
“Situasi ini meningkatkan probabilitas terjadinya stagflasi di sejumlah ekonomi utama,” ujar Rully dalam risetnya.
Rully menilai dampak kondisi tersebut turut dirasakan Indonesia, mengingat negara tujuan ekspor utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Jepang juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi serta kebijakan penghematan di dalam negeri.
Gangguan di Selat Hormuz disebut memperburuk situasi. Penutupan sebagian jalur itu dinilai sebagai salah satu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, yang secara tajam mengurangi aliran energi global.
Dalam kondisi seperti ini, bank sentral global diperkirakan akan lebih berfokus pada pengendalian inflasi ketimbang mendorong pertumbuhan. Konsekuensinya, suku bunga berpeluang bertahan tinggi lebih lama, memperketat likuiditas global dan meningkatkan volatilitas arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Mirae memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat pada periode 2026–2027. Perlambatan ini dipandang menjadi tantangan tambahan bagi Indonesia, baik dari sisi perdagangan maupun pasar keuangan.
Dari dalam negeri, ketidakpastian dinilai masih tinggi. Koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal dan moneter disebut belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar, sehingga sentimen investor menjadi lebih sensitif terhadap risiko.
Selain itu, lembaga pemeringkat disebut terus mencermati risiko fiskal Indonesia, termasuk potensi kewajiban kontinjensi dari Danantara apabila perannya bergeser ke arah quasi-fiskal.
Sejalan dengan meningkatnya tekanan, Mirae mengambil sikap lebih defensif dalam proyeksi. Selain memangkas pertumbuhan ekonomi menjadi 5% pada 2026 dan 5,1% pada 2027, inflasi diperkirakan sedikit meningkat. Sementara itu, nilai tukar rupiah diasumsikan melemah ke kisaran Rp16.600–Rp16.800 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) juga diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya hingga 2026, seiring meningkatnya tekanan eksternal dan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar.
Di pasar keuangan, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan naik menjadi 6,70% pada 2026 dan 6,50% pada 2027. Proyeksi ini mencerminkan premi risiko yang lebih tinggi di tengah kondisi global yang ketat.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia menghadapi dampak langsung dari kenaikan harga energi. Besarnya tekanan terhadap inflasi domestik dinilai sangat bergantung pada kebijakan subsidi energi pemerintah.
Di sisi lain, depresiasi rupiah yang kini berada di kisaran Rp16.800–Rp17.000 per dolar AS dinilai memperbesar risiko inflasi impor. Dari sisi fiskal, ruang kebijakan disebut semakin menyempit karena pemerintah dihadapkan pada pilihan antara menjaga harga energi tetap rendah melalui subsidi atau mempertahankan kredibilitas fiskal.
Program besar seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran sekitar Rp335 triliun turut menjadi sorotan, di tengah target defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB. Kekhawatiran tersebut disebut tercermin dari revisi outlook oleh lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody’s, serta meningkatnya tekanan di pasar obligasi dan nilai tukar.
Mirae menilai strategi front-loading belanja pemerintah dapat mendukung pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal, terutama jika terjadi lonjakan subsidi energi. Dalam jangka menengah, Danantara juga dipandang sebagai potensi sumber risiko fiskal tambahan apabila tidak dikelola secara hati-hati.
Dengan berbagai tekanan tersebut, Mirae menilai ruang kebijakan Indonesia semakin terbatas. Karena itu, menjaga belanja yang berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga—seperti belanja pegawai dan transfer ke daerah—dipandang menjadi kunci untuk menopang pertumbuhan.
Secara keseluruhan, Mirae memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bertahan di kisaran 5% pada 2026 di tengah meningkatnya tekanan global dan domestik.