Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,8 persen. Revisi ini disampaikan dalam laporan Interim Economic Outlook edisi Maret 2026 di tengah meningkatnya tekanan global, terutama akibat kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik.
OECD menilai perlambatan ekonomi global mulai terlihat. Konflik di Timur Tengah disebut mendorong lonjakan harga energi dan menekan aktivitas ekonomi. “Pertumbuhan global diproyeksikan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, seiring dampak harga energi yang lebih tinggi terhadap konsumsi dan investasi,” tulis OECD dalam laporannya, Selasa (31/3/2026).
Proyeksi untuk Indonesia turun dibandingkan laporan OECD sebelumnya pada Desember 2025. Saat itu, OECD memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026 dan 5,1 persen pada 2027. Dalam pembaruan terbaru, pertumbuhan Indonesia diproyeksikan 4,8 persen pada 2026 dan sekitar 5 persen pada 2027.
Angka proyeksi 2026 tersebut juga lebih rendah dibanding target dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen.
Menurut OECD, kenaikan harga energi menjadi faktor utama yang mendorong revisi. Gangguan pasokan minyak dan gas dinilai meningkatkan inflasi serta biaya produksi di berbagai negara. Dampaknya ikut menekan daya beli, terutama di negara importir energi seperti Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik dinilai meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Kondisi pembiayaan menjadi lebih ketat dan berpotensi menahan investasi. OECD menilai dampak tersebut lebih terasa bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, karena kenaikan harga global dapat menekan konsumsi dan margin usaha.
Dalam laporan yang sama, OECD memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global melambat menjadi 2,9 persen pada 2026 sebelum sedikit meningkat menjadi 3,0 persen pada 2027.
OECD juga memperkirakan inflasi global meningkat. Inflasi negara-negara G20 diproyeksikan naik dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 4,0 persen pada 2026, sebelum menurun pada 2027. Kenaikan inflasi itu dipicu harga energi yang lebih tinggi dan berdampak luas pada harga barang konsumsi.
Ke depan, OECD menilai risiko masih tinggi. Konflik geopolitik yang berlanjut atau harga energi yang bertahan tinggi dapat menekan pertumbuhan lebih dalam. Kebijakan moneter yang ketat di sejumlah negara juga berpotensi menahan permintaan global dan berdampak pada ekspor negara berkembang.
Meski tekanan meningkat, OECD mencatat perekonomian Indonesia masih ditopang permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah disebut tetap menjadi penopang utama, sehingga proyeksi pertumbuhan 4,8 persen mencerminkan kombinasi daya tahan domestik dan tekanan eksternal yang menguat.