Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 menjadi 4,8%. Untuk 2027, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5%.
Informasi tersebut muncul dalam rangkaian pembaruan ekonomi yang juga memuat sejumlah perkembangan lain, mulai dari kebijakan suku bunga, dinamika ketenagakerjaan sektor publik, hingga isu global yang berpotensi memengaruhi perekonomian.
Di dalam negeri, terdapat sorotan terkait peralihan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) ke pemerintah pusat yang dinilai perlu diikuti kepastian kesejahteraan. Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) disebut menahan BI Rate, sementara AllianzGI memilih menerapkan strategi portofolio defensif.
Di tingkat global, beberapa isu turut menjadi perhatian, antara lain India yang menghadapi musim hujan terlemah seiring menguatnya El Nino sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan. Ketegangan di kawasan Selat Hormuz juga mengemuka setelah Iran mengancam akan mengenakan denda dan menyita 45 kapal tanker.
Di pasar keuangan, Wall Street dilaporkan dibuka melemah dengan bayang-bayang isu Iran serta data inflasi Amerika Serikat. Sementara dari sektor industri, sejumlah perusahaan Indonesia disebut menghadapi tantangan eksekusi strategi di tengah perubahan bisnis, diikuti berbagai inisiatif korporasi, termasuk dorongan percepatan konstruksi hunian melalui bata interlock presisi dan target pertumbuhan double digit pada semester II-2026 dari salah satu emiten.
Penurunan proyeksi OECD untuk Indonesia menjadi salah satu indikator yang dicermati pelaku pasar dan pemangku kebijakan, seiring perkembangan domestik dan global yang terus bergerak dinamis.