BERITA TERKINI
OJK: Ketidakpastian Global Meningkat, Ekonomi RI dan Sektor Keuangan Tetap Tahan

OJK: Ketidakpastian Global Meningkat, Ekonomi RI dan Sektor Keuangan Tetap Tahan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor industri jasa keuangan Indonesia masih dibayangi ketidakpastian global yang turut memengaruhi perekonomian nasional. Risiko global dinilai terus meningkat seiring berlanjutnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi, serta meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap potensi terbentuknya gelembung harga aset (asset price bubble) pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Pejabat Sementara (Pjs) Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan ketidakpastian global saat ini masih sangat tinggi. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Economic Outlook 2026 yang digelar OJK Institute secara virtual pada Kamis (19/2/2026).

Menurut Friderica, kondisi tersebut mendorong meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global, memperpanjang fase kebijakan moneter yang ketat, serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia ke level di bawah rata-rata historis jangka panjang.

Meski demikian, OJK menilai perekonomian Indonesia tetap terjaga dan menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tantangan global. Salah satu indikatornya, pertumbuhan ekonomi nasional disebut konsisten berada di kisaran 5%.

Sepanjang 2025, perekonomian domestik tumbuh 5,11%. Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,39% secara tahunan (year-on-year), yang disebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.

Dari sisi sektor jasa keuangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan 7,92% secara tahunan pada periode yang sama. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak kuartal II 2021.

Friderica menjelaskan capaian tersebut didorong oleh kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif, tercermin dari pertumbuhan kredit, serta perbaikan kinerja sektor asuransi dan dana pensiun yang kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi dalam dua tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional juga terus meningkat. Hal itu tercermin dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang telah mencapai 184% dari produk domestik bruto (PDB).

Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya peran pasar modal dalam pembiayaan perekonomian nasional, serta semakin luasnya diversifikasi produk keuangan yang tersedia bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Namun demikian, Friderica menekankan struktur perekonomian domestik saat ini masih bersifat bank-led atau didominasi sektor perbankan, sehingga intermediasi sektor keuangan pun masih bertumpu pada perbankan.

Karena itu, OJK menempatkan pendalaman pasar keuangan sebagai fokus utama, antara lain dengan meningkatkan peran pasar modal, mendiversifikasi sumber pembiayaan, serta mengurangi risiko jatuh tempo dan ketidakcocokan pendanaan dalam sistem keuangan nasional.