Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sektor jasa keuangan tumbuh 7,92 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal IV-2025, di tengah situasi perekonomian global yang bergejolak. Pertumbuhan tersebut disebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal II-2021.
Pernyataan itu disampaikan Pjs Ketua dan Wakil Ketua OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam webinar OJK Institute pada Kamis (19/2). Ia merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan laju pertumbuhan sektor jasa keuangan mencapai 7,92 persen pada kuartal terakhir 2025.
Menurut Friderica, capaian tersebut didorong oleh kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit, serta perbaikan kinerja sektor asuransi dan dana pensiun yang kembali mencatat pertumbuhan positif setelah mengalami kontraksi dalam dua tahun sebelumnya.
Ia menilai dinamika sektor jasa keuangan di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan ekonomi global dan domestik. Meski demikian, ia menekankan bahwa ketidakpastian global masih berada pada level yang sangat tinggi.
Friderica juga menyoroti meningkatnya risiko kerugian finansial akibat penurunan nilai investasi (downside risk) di tingkat global, seiring berlanjutnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi. Selain itu, pelaku pasar turut mencermati potensi penggelembungan harga aset (asset price bubble) pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan volatilitas di pasar keuangan global, memperpanjang fase kebijakan moneter ketat, serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi global ke level di bawah rata-rata historis jangka panjang.

