Sejumlah analis menilai prospek pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2026 terlihat lebih positif. Namun, pelaku dan pengamat sektor logistik mengingatkan bahwa dinamika tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan permintaan riil, karena volume barang yang benar-benar diangkut masih rendah sementara biaya rantai pasokan terus meningkat.
Alan Murphy, CEO sekaligus pendiri Sea-Intelligence, perusahaan analitik perkapalan global, mengatakan penguatan sejumlah indikator—termasuk pertumbuhan ekonomi yang tampak lebih baik serta kuatnya lapangan kerja di sektor logistik dan ritel—banyak dipengaruhi oleh kenaikan impor menjelang perubahan kebijakan perdagangan. Menurutnya, tren itu bersifat sementara.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan terbarunya memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,3% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Sea-Intelligence, dalam analisis yang dipublikasikan pekan lalu, menilai perlambatan tersebut bisa menjadi dampak langsung dari fenomena “pra-impor” yang terjadi sepanjang 2025.
Pada awal 2025, pemerintahan Presiden AS Donald Trump menaikkan serangkaian tarif impor untuk barang dari mitra dagang utama. Kebijakan itu dinyatakan bertujuan melindungi industri AS dan mendorong produksi dalam negeri. Setelah pengumuman tarif, aktivitas ekonomi AS dilaporkan melonjak.
Meski demikian, banyak ekonom dan analis perdagangan berpandangan lonjakan tersebut terutama dipicu jaringan ritel besar—dari Walmart hingga Target—yang mempercepat penimbunan barang sebelum tarif sepenuhnya berlaku. Langkah ini, menurut mereka, dapat menimbulkan kesan ekonomi yang lebih dinamis, tetapi tidak serta-merta mencerminkan peningkatan permintaan konsumen maupun tren jangka panjang.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent baru-baru ini membantah bahwa tarif memicu inflasi. Namun pandangan itu dinilai tidak meyakinkan oleh banyak ahli. Morningstar memperkirakan inflasi naik menjadi 2,7% pada 2026, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, seiring bisnis meneruskan biaya terkait tarif kepada konsumen.
Peterson Institute for International Economics bulan lalu juga memperkirakan inflasi bisa melampaui 4% pada akhir 2026 akibat dampak tertunda kebijakan perdagangan yang diterapkan pemerintahan Trump. Mereka memperingatkan bahwa optimisme saat ini mengenai inflasi yang terus turun menuju target 2% Federal Reserve masih terlalu dini.
Kepala ekonom KPMG Diane Swonk turut menyoroti karakter “inflasi stagnan” dari tarif tinggi, yakni kondisi ketika biaya tambahan tidak dapat sepenuhnya ditanggung bisnis maupun sepenuhnya dibebankan kepada konsumen. Dalam konteks ini, perdebatan mengenai kekuatan pertumbuhan dan arah inflasi menuju 2026 diperkirakan tetap dipengaruhi oleh dampak kebijakan tarif serta penyesuaian di rantai pasokan.

