BERITA TERKINI
Outflow Asing Tembus Rp 26,55 Triliun dalam Sebulan, Analis Nilai Tekanan Berpotensi Mereda

Outflow Asing Tembus Rp 26,55 Triliun dalam Sebulan, Analis Nilai Tekanan Berpotensi Mereda

Arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia berlanjut hingga pekan kedua Februari 2026. Dalam periode 9–13 Februari 2026, investor global mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 5,47 triliun, melonjak dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat Rp 1,13 triliun.

Jika ditarik sebulan ke belakang, total dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia mencapai Rp 26,55 triliun. Meski demikian, sejumlah analis menilai peluang kembalinya minat investor asing masih terbuka, terutama jika sejumlah sentimen negatif mereda.

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai tren keluarnya dana asing berpotensi segera berakhir seiring mulai pulihnya kepercayaan investor institusi terhadap pasar saham domestik. Ia menyoroti keputusan S&P yang tetap melanjutkan proses pengocokan ulang (rebalancing) saham-saham Indonesia untuk periode Maret 2026 sebagai sentimen positif, berbeda dengan MSCI dan FTSE yang sebelumnya memicu tekanan di pasar.

“Dari hal tersebut, ini menjadi sinyal awal adanya flow asing untuk masuk ke pasar saham Indonesia,” ujar Ahmad, Rabu (18/2).

S&P sebelumnya menyatakan tetap memantau perkembangan terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia dan akan melanjutkan rebalancing pada periode Maret 2026. Menurut Ahmad, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir masih sangat bergantung pada arus dana asing. Sementara isu terkait MSCI dan FTSE dinilai bersifat struktural dan teknis, sehingga berpeluang pulih apabila terdapat perbaikan birokrasi dan revisi outlook dari lembaga indeks global.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, mengatakan arus keluar dana asing setelah pengumuman rebalancing MSCI dan FTSE memang memberi tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar. Penurunan bobot Indonesia dalam indeks global memaksa pengelola dana pasif (passive funds) menyesuaikan portofolio mereka.

Selain faktor rebalancing, David menilai pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.838 per dolar AS serta ketidakpastian arah suku bunga global turut mendorong investor asing beralih ke aset safe haven. Ia menyebut tekanan akibat rebalancing umumnya bersifat jangka pendek hingga menengah dan akan mereda setelah proses penyesuaian bobot indeks selesai.

“Tren outflow akibat rebalancing indeks biasanya bersifat jangka pendek hingga menengah. Umumnya, tekanan akan mulai mereda setelah proses penyesuaian bobot indeks selesai dilakukan,” kata David.

David memperkirakan arus dana berpotensi berbalik masuk ketika laporan keuangan emiten tahun buku 2025 dirilis dengan dividen yang menarik, serta adanya kepastian penurunan suku bunga Bank Indonesia ke level 4,25% yang diproyeksikan terjadi pada 2026.

Investor domestik dinilai makin tangguh

Di tengah derasnya arus keluar dana asing, investor domestik dinilai semakin berperan menopang pasar. Ahmad menilai investor ritel yang masuk sejak masa pandemi kini memiliki pemahaman lebih baik terhadap pasar saham, sehingga tetap menyiapkan cadangan kas untuk akumulasi saat harga saham terkoreksi.

Menurutnya, kondisi itu turut mendorong IHSG mampu rebound dengan dukungan aliran dana domestik, baik dari investor individu maupun institusi. Ia juga mengingatkan bahwa dalam setahun terakhir partisipasi pasar lebih didominasi investor lokal.

Senada, David menyebut investor domestik—termasuk dana pensiun dan asuransi—kini menjadi pilar utama bursa. Likuiditas dalam negeri yang kuat dinilai mampu menyerap tekanan jual asing, terutama pada saham perbankan.