Fenomena childfree, yakni keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak, kian ramai dibicarakan di Indonesia. Sejumlah pasangan muda memilih jalan ini dengan beragam pertimbangan, mulai dari beban finansial hingga pengalaman pribadi di masa lalu.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak IPB University, Dr Yulina Eva Riany, SP, MEd, menilai meningkatnya tren tidak memiliki anak dipengaruhi banyak faktor. Salah satu pemicu utamanya adalah kenaikan biaya hidup dan mahalnya pendidikan. “Biaya hidup yang terus meningkat dan mahalnya biaya pendidikan menjadi pertimbangan utama bagi banyak pasangan untuk memilih tidak memiliki anak,” ujar Dr Yulina, dikutip dari ipb.ac.id, Senin, 26 Mei 2025.
Selain faktor ekonomi, pilihan childfree juga kerap terkait dengan keinginan untuk fokus pada pengembangan karier. Menurut Dr Eva, dorongan untuk mengejar kesuksesan profesional dapat membuat seseorang menunda, bahkan menghindari, tanggung jawab sebagai orang tua.
Dari sisi psikologis dan kesehatan, ada pasangan yang merasa lebih nyaman hidup tanpa anak karena trauma masa kecil akibat pola asuh yang buruk, atau karena kondisi kesehatan yang membuat kehamilan berisiko. “Keinginan untuk merasakan kebebasan tanpa tanggung jawab membesarkan anak juga menjadi alasan yang cukup dominan,” kata Dr Eva.
Ia juga menyebut pengaruh budaya luar, khususnya budaya Barat yang menekankan kebebasan individu, turut memperkuat pilihan hidup tanpa anak. Di samping itu, kekhawatiran atas dampak lingkungan dan sosial akibat ledakan populasi juga mulai menjadi pertimbangan sebagian pasangan.
Meski dipandang sebagai keputusan personal, Dr Eva mengingatkan bahwa tren childfree berpotensi memunculkan konsekuensi serius dalam jangka panjang, terutama pada struktur demografi dan beban ekonomi negara. Ia merujuk pengalaman Jepang dan Korea Selatan, di mana penurunan angka kelahiran berdampak pada berkurangnya populasi pekerja serta meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi terhadap pemerintah, terutama dalam layanan pensiun dan kesehatan.
Negara yang menghadapi krisis populasi akibat penurunan kelahiran dapat mengalami kekurangan tenaga kerja, penurunan produktivitas, serta meningkatnya beban pembiayaan bagi kelompok lansia.
Karena itu, Dr Eva mendorong pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi tren ini melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Ia menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi mengenai nilai keluarga serta peran anak dalam pembangunan bangsa. “Kita perlu menciptakan narasi baru tentang kebebasan dan kebahagiaan yang compatible dengan kehidupan berkeluarga,” ujarnya.
Sejumlah langkah yang disoroti antara lain dukungan ekonomi bagi pasangan muda, peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan, serta kebijakan kerja yang ramah keluarga seperti jam kerja fleksibel, kerja jarak jauh, dan cuti orang tua. Dr Eva juga menekankan perlunya edukasi pengasuhan yang melibatkan laki-laki, serta pentingnya menghadirkan role model keluarga muda yang tetap produktif dan bahagia sambil membesarkan anak.
Menurutnya, tren childfree perlu dipahami sebagai pilihan individu, namun dampaknya terhadap struktur sosial dan ekonomi tidak dapat diabaikan. Ia menilai peran pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan dibutuhkan untuk membangun ekosistem yang mendukung kehidupan keluarga tanpa mengorbankan aspirasi pribadi pasangan muda.

