BERITA TERKINI
Pasar Keuangan RI Mulai Pulih, Pelaku Pasar Cermati BI dan Rangkaian Data Ekonomi

Pasar Keuangan RI Mulai Pulih, Pelaku Pasar Cermati BI dan Rangkaian Data Ekonomi

Pasar keuangan Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan sepanjang pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bertahan di atas level 8.200, rupiah bergerak relatif stabil, sementara pasar obligasi mulai kembali diburu investor seiring turunnya imbal hasil (yield).

Di tengah pemulihan tersebut, pasar diperkirakan tetap dipengaruhi sejumlah katalis pada hari ini dan sepekan ke depan, termasuk keputusan Bank Indonesia (BI), rilis data ekonomi Amerika Serikat, keputusan MSCI dan FTSE, serta momentum awal puasa.

Pada penutupan perdagangan Jumat (13/2/2026), IHSG berakhir di level 8.212,27. Secara harian, indeks melemah 0,64%, namun secara mingguan masih mencatat kenaikan 3,49%.

Aktivitas perdagangan pada Jumat lalu mencatat 267 saham turun, 408 saham naik, dan 148 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 24,41 triliun dengan volume 49,40 miliar saham dalam 2,86 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat turun menjadi Rp 14.918 triliun.

Dari sisi nilai transaksi di pasar reguler, saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bumi Resources (BUMI) menjadi yang terbesar, disusul PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, hampir seluruh sektor melemah. Koreksi terdalam terjadi pada sektor barang baku, infrastruktur, dan teknologi. Sejumlah saham yang menjadi pemberat utama IHSG pada Jumat antara lain BBCA, PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), serta PT Astra International (ASII).

Di pasar valuta asing, rupiah pada akhir pekan lalu kembali melemah terhadap dolar AS. Mengacu data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di Rp16.825/US$ atau terdepresiasi 0,09%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan dari penutupan sebelumnya ketika rupiah melemah 0,21% di Rp16.810/US$.

Sepanjang sesi, rupiah bergerak pada rentang Rp16.805–Rp16.850 per dolar AS. Pergerakan ini dinilai masih relatif stabil dibanding beberapa pekan sebelumnya saat rupiah sempat mendekati Rp17.000/US$, yang disebut sebagai level terburuk dalam sejarah.

Pergerakan rupiah pekan lalu masih dipengaruhi penguatan dolar AS secara global. Menguatnya indeks dolar (DXY) mengindikasikan pelaku pasar kembali mengambil posisi pada aset berdenominasi dolar AS, yang menekan mata uang lain termasuk rupiah. Meski demikian, secara mingguan dolar AS masih berada dalam tren pelemahan, dengan penurunan sekitar 0,5%.

Dolar AS juga tertekan oleh kombinasi penguatan sejumlah mata uang lain serta munculnya keraguan pasar terhadap ketahanan ekonomi AS. Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran AS menurun, namun penurunannya lebih kecil dari perkiraan. Data tersebut menyusul laporan bahwa pertumbuhan pekerjaan AS pada Januari meningkat di atas ekspektasi, walau sebagian analis menilai penguatan pasar tenaga kerja belum merata.

Penciptaan lapangan kerja dinilai masih terkonsentrasi pada sektor kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi. Revisi data juga menunjukkan payrolls sempat negatif dalam beberapa bulan sepanjang 2025.

Pelaku pasar masih memperkirakan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dengan pemangkasan pertama diproyeksikan terjadi pada Juni. Selama tidak ada kejutan besar dari data inflasi, pasar menilai dolar berpotensi bergerak lebih konsolidatif dalam waktu dekat.

Sementara itu, di pasar surat utang, indikasi pembelian investor terlihat dari turunnya yield obligasi acuan 10 tahun. Berdasarkan data Refinitiv, yield obligasi 10 tahun (ID10Y) berada di 6,40% pada Jumat lalu, turun 4 basis poin (bps) sepanjang sepekan atau sekitar 0,54%.

Dalam mekanisme pasar obligasi, yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Ketika yield turun, harga obligasi naik, yang mencerminkan meningkatnya minat beli investor.