BERITA TERKINI
Pasar Properti Balikpapan Melambat pada Triwulan II 2025, Penjualan Turun 11%

Pasar Properti Balikpapan Melambat pada Triwulan II 2025, Penjualan Turun 11%

Pasar properti residensial di Kota Balikpapan menunjukkan perlambatan pada triwulan II 2025. Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Balikpapan tumbuh 0,96% secara tahunan (year on year/yoy), melandai dibanding triwulan I 2025 yang tumbuh 1,31% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan harga terutama dipengaruhi melemahnya kenaikan harga rumah tipe menengah dan kecil. Pada triwulan II 2025, harga rumah tipe menengah naik 0,42% (yoy) dan rumah tipe kecil 0,38% (yoy), turun dari capaian triwulan I yang masing-masing sebesar 1,00% (yoy) dan 1,59% (yoy).

Kondisi tersebut sejalan dengan penurunan nilai penjualan properti sebesar 11% dibanding triwulan sebelumnya. Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa setelah sempat terdorong oleh masifnya konstruksi dan ekspektasi pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN), permintaan kini kembali ke pola normal. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis pada Kamis, 28 Agustus 2025.

Di sisi lain, harga rumah tipe besar dengan luas lebih dari 70 meter persegi justru tumbuh lebih tinggi, yakni 2,07% (yoy), meningkat dari 1,34% pada triwulan sebelumnya. Namun, penjualan rumah tipe besar tercatat anjlok hingga 25% akibat lemahnya minat pasar.

Dari sisi pangsa transaksi, rumah tipe menengah menjadi yang paling dominan pada triwulan II 2025, menggantikan dominasi rumah tipe kecil pada periode sebelumnya. Salah satu pendorongnya adalah hadirnya sejumlah cluster baru dengan tipe menengah yang dinilai menarik minat konsumen.

Bank Indonesia juga mencatat mayoritas transaksi properti di Balikpapan masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Porsi KPR mencapai 89% pada triwulan II 2025, meningkat dari 84% pada triwulan I. Sementara itu, 8% penjualan dilakukan melalui skema cicilan bertahap dan 3% secara tunai.

Ke depan, Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendukung pertumbuhan pembiayaan sektor prioritas, termasuk perumahan dan real estate. Robi menyebut kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas sektor properti sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.