BERITA TERKINI
Peluang Perbankan Syariah Digital Masih Luas, Bank Aladin Syariah Perkuat Ekosistem dan Kanal Digital

Peluang Perbankan Syariah Digital Masih Luas, Bank Aladin Syariah Perkuat Ekosistem dan Kanal Digital

Prospek perbankan syariah digital di Indonesia dinilai masih terbuka lebar. Dengan populasi muslim lebih dari 200 juta jiwa dan tingkat inklusi keuangan syariah yang masih relatif rendah dibandingkan perbankan konvensional, ruang pertumbuhan sektor ini disebut masih besar.

Merespons peluang tersebut, PT Bank Aladin Syariah Tbk mengoptimalkan kanal digitalnya. Perseroan mencatat jumlah pengguna terdaftar telah melampaui 3,3 juta nasabah sejak peluncuran aplikasi digital pada awal 2022.

Direktur Utama Bank Aladin Syariah Koko Tjatur Rachmadi mengatakan, strategi berbasis ekosistem dan pendekatan digital memungkinkan perusahaan menjangkau masyarakat lebih luas dengan biaya akuisisi yang efisien, sekaligus meningkatkan pengalaman nasabah. Pernyataan itu disampaikan dalam Public Expose Tahunan yang digelar secara daring, Kamis, 19 Februari 2026.

Koko menambahkan, strategi offline-to-online (O2O) melalui kolaborasi dengan Grup Alfa menjadi diferensiasi utama perseroan. Melalui jaringan nasional dan ekosistem digital Alfa Group—termasuk Alfamart, Alfamidi, Alfagift, Aksesmu, Lawson, Dan+Dan, serta Umrah Madani Amanah—Bank Aladin Syariah menghadirkan layanan perbankan syariah yang terintegrasi dan mudah diakses oleh masyarakat.

Selain memperluas jangkauan melalui ekosistem ritel, perusahaan juga memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai institusi. Di antaranya, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai bank penerima setoran pembayaran ibadah haji, kolaborasi dengan Taspen dalam pengembangan solusi pembiayaan berbasis digital, serta kerja sama Bank-as-a-Service (BaaS) dengan Flip dan Mekari untuk memperluas distribusi layanan keuangan syariah digital.

Dari sisi kinerja, sepanjang 2024 Bank Aladin Syariah mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 56% secara tahunan menjadi Rp5,17 triliun, sementara total aset meningkat 32% menjadi Rp9,36 triliun.

Penyaluran pembiayaan juga naik 53% menjadi Rp4,68 triliun. Sejalan dengan ekspansi tersebut, pendapatan operasional meningkat 93% menjadi Rp564 miliar, yang disebut mencerminkan peningkatan skala bisnis dan optimalisasi model operasional digital.

Perbaikan kinerja juga tercermin dari rasio keuangan yang disebut semakin sehat, termasuk penurunan Cost to Income Ratio (CIR). Rasio profitabilitas seperti Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) juga dilaporkan menunjukkan tren perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi kualitas pembiayaan, Non-Performing Financing (NPF) disebut berada pada level sangat rendah. Menurut Koko, capaian sepanjang 2024 merupakan hasil strategi pertumbuhan yang terukur dan fokus pada penguatan ekosistem. “Kami tidak hanya bertumbuh secara angka, tetapi juga memperkuat fundamental bisnis,” ujarnya.

Koko menilai, prospek pertumbuhan industri perbankan syariah digital juga didukung langkah pemerintah melalui Masterplan Ekonomi Syariah serta meningkatnya preferensi masyarakat terhadap produk halal dan layanan berbasis syariah.

Ke depan, Bank Aladin Syariah menyatakan komitmen untuk mengoptimalkan pembiayaan dan pendanaan berkualitas di segmen ritel, UMKM, dan korporasi, memperluas kolaborasi ekosistem digital, serta memperkuat infrastruktur teknologi informasi dan tata kelola perusahaan. Penguatan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia juga disebut menjadi bagian dari upaya menjaga pertumbuhan berkelanjutan.