Jakarta — Pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat fundamental ekonomi dalam negeri di tengah tekanan kenaikan suku bunga global yang dinilai berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian nasional. Langkah ini dipandang penting menyusul ketidakpastian pasar keuangan dan meningkatnya volatilitas global yang menuntut respons kebijakan yang strategis dan adaptif.
Akademisi Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Edy Prasetyono menilai peningkatan tata kelola dan transparansi merupakan kebutuhan mendesak. Menurut dia, perbaikan tetap perlu dilakukan terlepas dari ada tidaknya guncangan di bursa.
“Ada atau tidak guncangan di bursa, perbaikan tetap harus dilakukan. Bukan hanya untuk memenuhi standar global, melainkan agar perekonomian nasional benar-benar kuat,” kata Edy.
Ia menambahkan, isu geopolitik dan geoekonomi tidak dapat dipisahkan dari guncangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Edy juga menyebut, dalam sejumlah kasus, apa yang disebut standar internasional kerap dijadikan instrumen untuk menekan perekonomian suatu negara atau wilayah.
Kenaikan suku bunga di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya, disebut menciptakan tantangan bagi negara berkembang. Dampaknya antara lain tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal, yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi serta stabilitas finansial nasional.
Di sisi lain, Peneliti Departemen Internasional CSIS M. Habib Abiyan Dzakwan menekankan perlunya perbaikan lintas sektoral dalam merespons guncangan di BEI. Menurutnya, pembenahan tidak cukup dilakukan oleh otoritas bursa, tetapi juga mencakup perbaikan iklim usaha, sektor hukum, dan kebijakan ekonomi secara menyeluruh.
Habib juga menilai penguatan tata kelola serta mekanisme mitigasi risiko penting untuk menghadapi potensi tekanan di masa depan. “Perbaikan tidak hanya dari sektor keuangan, perlu menyeluruh,” ujarnya.
Sejumlah pengamat menilai, strategi yang tepat dapat menjadi momentum perbaikan fundamental domestik untuk menghadapi berbagai guncangan ekonomi global.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (11/02). Dalam rapat tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan perkembangan indikator makroekonomi terkini kepada Presiden.
Rapat itu menegaskan komitmen Presiden Prabowo untuk menjaga stabilitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menilai, di tengah ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan menunjukkan arah pertumbuhan yang semakin terstruktur.

