BERITA TERKINI
Pemerintah Susun Efisiensi Anggaran Bertahap untuk Jaga Stabilitas Ekonomi

Pemerintah Susun Efisiensi Anggaran Bertahap untuk Jaga Stabilitas Ekonomi

Pemerintah Indonesia menyiapkan kebijakan efisiensi anggaran secara bertahap untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang dinilai kian kompleks. Sejumlah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, disebut menjadi faktor eksternal yang perlu diantisipasi karena berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi domestik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah telah merancang skema efisiensi anggaran dalam tiga tahap sepanjang tahun ini. Efisiensi tersebut diposisikan bukan semata penghematan, melainkan langkah preventif untuk meredam risiko ekonomi global, dengan tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan dalam pengelolaan keuangan negara.

Pemerintah menargetkan penghematan sebesar Rp81 triliun. Kebijakan itu disebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan efisiensi sebagai fondasi penguatan ekonomi nasional. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menegaskan bahwa anggaran negara perlu diarahkan pada program prioritas yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Selain efisiensi bertahap, pemerintah sebelumnya melakukan relokasi anggaran dalam skala besar yang disebut mencapai Rp800 triliun atau sekitar US$70 miliar. Relokasi tersebut dipaparkan sebagai upaya memfokuskan belanja negara pada sektor-sektor strategis guna memperkuat ketahanan ekonomi.

Dengan strategi tersebut, pemerintah menyatakan optimistis defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat dijaga dalam batas aman. Proyeksi defisit tahun 2026 disebut berada pada level 2,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), di bawah ambang batas 3 persen sebagaimana ketentuan perundang-undangan.

Pemerintah menilai efisiensi anggaran tidak hanya berkaitan dengan pengurangan belanja, tetapi juga upaya meningkatkan produktivitas dan ketepatan sasaran pengeluaran negara. Dalam kerangka itu, belanja diupayakan dialihkan ke sektor yang dinilai memiliki efek berganda bagi perekonomian, seperti infrastruktur, ketahanan pangan, energi, dan perlindungan sosial.

Di sisi lain, tekanan global turut mendorong kebutuhan efisiensi di sektor energi. Kenaikan harga energi dunia akibat konflik geopolitik berpotensi meningkatkan beban subsidi. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Negeri Padang, Genius Umar, menilai efisiensi energi menjadi kebutuhan strategis yang perlu segera diwujudkan.

Menurut pandangan tersebut, pembengkakan subsidi energi yang tidak dikelola berisiko mengurangi ruang fiskal untuk sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur. Karena itu, pemerintah didorong melakukan penataan ulang prioritas anggaran secara sistematis agar keseimbangan antara efisiensi dan kualitas layanan publik tetap terjaga.

Dalam konteks penguatan ekonomi nasional, efisiensi energi juga dikaitkan dengan dorongan penggunaan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang percepatan transisi menuju energi terbarukan yang dinilai memiliki nilai tambah ekonomi jangka panjang.

Secara keseluruhan, kebijakan efisiensi yang ditempuh pemerintah diproyeksikan menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas dan keberlanjutan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Pemerintah juga menilai disiplin pengelolaan anggaran dapat memperkuat kepercayaan publik dan investor, yang pada akhirnya diharapkan mendorong investasi, penciptaan lapangan kerja, dan daya saing Indonesia.