BERITA TERKINI
Pengamat Soroti Narasi New World Order, Peran IMF–Bank Dunia, dan Posisi Indonesia di Tengah Pergeseran Global

Pengamat Soroti Narasi New World Order, Peran IMF–Bank Dunia, dan Posisi Indonesia di Tengah Pergeseran Global

Wacana mengenai dinamika geopolitik global kembali mengemuka, terutama terkait narasi “New World Order” (NWO), peran lembaga keuangan internasional, serta posisi Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia. Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah memaparkan sejumlah pandangan kritis mengenai isu-isu tersebut.

Dalam analisanya, Amir menilai konsep NWO kerap dipersepsikan sebagai desain besar untuk membentuk sistem pemerintahan global tunggal. Ia juga menyampaikan kekhawatiran bahwa dalam narasi tersebut, eksistensi agama-agama samawi dapat tergerus oleh kepentingan geopolitik dan ekonomi global.

Amir turut mengaitkan isu itu dengan pernyataan kontroversial yang diklaim berasal dari tokoh militer Amerika Serikat Pete Hegseth, yang disebut menyinggung konflik Iran dalam konteks yang lebih luas terhadap dunia Islam.

Sorotan Amir juga diarahkan kepada International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. Menurutnya, skema pinjaman yang diberikan kepada negara berkembang kerap menimbulkan ketergantungan struktural. Ia berpendapat negara-negara miskin yang kaya sumber daya alam dan manusia menjadi target utama, sementara pinjaman luar negeri dinilai tidak selalu membawa kesejahteraan dan dalam beberapa kasus justru memperberat beban fiskal jangka panjang.

Di sisi lain, Amir menilai perubahan lanskap global ditandai kemunculan kekuatan ekonomi alternatif, salah satunya BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, serta telah diperluas dengan sejumlah negara baru, termasuk Indonesia dalam konteks kerja sama tertentu. Ia menyebut BRICS mendorong agenda dedolarisasi, yakni mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam transaksi internasional, yang menurutnya berkaitan dengan dominasi sistem keuangan global yang selama ini terhubung dengan IMF dan Bank Dunia.

Selain BRICS, Amir menyebut negara-negara Arab membentuk Arab Monetary Fund sebagai alternatif regional. Dalam beberapa pandangan, lembaga ini dinilai dapat bersinergi atau menjadi penyeimbang terhadap sistem keuangan global yang sudah ada.

Dalam analisanya, Amir juga menyinggung keluarga Mayer Amschel Rothschild sebagai simbol kekuatan finansial global. Ia menyebut keluarga tersebut dikenal dalam sejarah sebagai dinasti perbankan besar di Eropa sejak abad ke-18, dan mengklaim keluarga itu mengendalikan IMF dan Bank Dunia.

Isu lain yang diangkat adalah keberadaan jaringan seperti Freemasonry dan Illuminati yang disebut-sebut telah lama beroperasi secara global, termasuk di Indonesia. Amir merujuk pada adanya referensi akademik, termasuk karya Paul W. van der Veur, yang pernah membahas keberadaan Freemasonry dalam konteks sejarah kolonial.

Dalam konteks Indonesia, Amir menilai langkah Presiden Prabowo Subianto yang menjalin komunikasi dengan berbagai kekuatan global sebagai strategi penting. Pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dinilainya sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam poros alternatif seperti BRICS. Sementara komunikasi dengan Raja Inggris Charles III dipandang sebagai langkah diplomasi untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan Barat.

Amir juga menyampaikan klaim bahwa Raja Charles III merupakan Ketua “Komite 300” yang disebutnya sebagai pengendali dana NWO. Ia menilai pertemuan Prabowo dengan Raja Inggris berpotensi membuka akses terhadap “sumber dana tersembunyi” bagi Indonesia. Menurutnya, bila sumber dana tersebut berbentuk likuid maupun kolateral, hal itu dapat memperkuat kemandirian finansial dan moneter nasional serta mengurangi ketergantungan pada IMF dan Bank Dunia.