BERITA TERKINI
Perang Dagang AS-China Memanas, Sejumlah Saham Logam Mulia dan Energi Dinilai Berpeluang Diuntungkan

Perang Dagang AS-China Memanas, Sejumlah Saham Logam Mulia dan Energi Dinilai Berpeluang Diuntungkan

Pasar keuangan global kembali menghadapi tekanan seiring memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor produk asal China dari 30 persen menjadi 130 persen.

Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai konflik dagang tersebut menjadi momok baru bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Menurutnya, ketegangan ini bukan hanya mengancam rantai pasok global, tetapi juga memunculkan kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia yang dapat menekan ekspor dan investasi lintas negara.

Bagi pasar saham Indonesia, Hendra menilai dampak konflik berpotensi terasa melalui pelemahan sentimen risiko yang memicu aliran dana asing keluar dari aset berisiko, termasuk saham. Ia menyebut sektor yang sangat bergantung pada ekspor—seperti otomotif, elektronik, dan bahan baku industri—berpeluang menjadi yang paling terdampak karena meningkatnya ketidakpastian global serta potensi gangguan rantai pasok akibat kebijakan proteksionis.

Di sisi lain, Hendra melihat ketegangan geopolitik dapat mendorong pergeseran investor global ke aset aman seperti emas dan perak, yang berpotensi mengerek harga kedua logam mulia tersebut. Kondisi ini dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham komoditas logam mulia seperti MDKA, BRMS, PSAB, dan ANTM, yang berpeluang diuntungkan dari kenaikan harga jual dan meningkatnya margin.

Dalam situasi seperti ini, Hendra menyarankan investor menerapkan strategi selektif dan defensif. Ia menyebut sejumlah saham yang dinilai masih layak diakumulasi karena berpotensi diuntungkan dari tren naik harga energi dan logam, yakni TOBA (target 1.575), DKFT (target 900), OASA (target 356), dan BUMI (target 168). Selain itu, ia juga menyampaikan rekomendasi untuk SCMA dengan status buy (target 500).

Hendra menilai perang dagang AS-China berpotensi menjadi batu ganjalan bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, ia menekankan peluang tetap terbuka bagi investor yang cermat membaca rotasi sektor dan fokus pada emiten dengan katalis fundamental kuat serta prospek komoditas global yang positif.

Secara teknikal, Hendra memprediksi IHSG mulai kehilangan momentum penguatan jangka pendek setelah ditutup melemah ke level 8.227,20 pada perdagangan Senin, 13 Oktober 2025. Ia menyebut penutupan tersebut menunjukkan IHSG sedang menguji area resistance kuat di kisaran 8.247. Dengan indikator stochastic yang sudah masuk area overbought, ia menilai tekanan jual masih berpotensi muncul, terutama jika indeks gagal bertahan di atas level psikologis 8.211 (MA5).

Jika koreksi berlanjut, Hendra memperkirakan IHSG dapat menguji area support di kisaran 8.050–8.096 (MA20) sebelum kembali mencoba rebound. Namun, ia menilai peluang rebound jangka pendek tetap terbuka karena beberapa saham berkapitalisasi kecil dan sektor komoditas masih menunjukkan aliran beli yang kuat.