Industri perbankan nasional terus memperkuat kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Eskalasi konflik geopolitik, khususnya antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat, dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan risiko eksternal.
Kondisi tersebut berpotensi menekan stabilitas harga komoditas strategis, terutama minyak mentah. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor energi, tetapi juga dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi lainnya.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa sektor perbankan tetap berada dalam kondisi fundamental yang kuat. Menurutnya, hal itu menjadi modal penting untuk menghadapi gejolak global yang semakin kompleks.
Hery menyebut indikator utama perbankan domestik masih menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan kredit dinilai tetap terjaga, likuiditas berada pada level yang memadai, serta permodalan bank masih dalam kondisi kuat.
“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujar Hery.