Sektor perbankan nasional mencatat pertumbuhan kredit sebesar 9,96 persen di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Capaian ini menjadi sinyal bahwa permintaan pembiayaan dari sektor-sektor produktif masih terjaga, meski pasar internasional dibayangi volatilitas nilai tukar dan arah suku bunga global.
Di balik kenaikan tersebut, perbankan tidak mengambil langkah agresif tanpa kehati-hatian. Sejumlah bank justru memperkuat kewaspadaan untuk menjaga stabilitas portofolio, seiring risiko eksternal yang dinilai masih berpotensi menekan kinerja debitur.
Sepanjang 2025, tren pertumbuhan kredit dinilai relatif stabil meski berada dalam tekanan faktor global. Salah satu kontributor pertumbuhan datang dari Bank Mandiri. Hingga November 2025, Bank Mandiri membukukan pertumbuhan kredit 13,1 persen dengan total penyaluran mencapai Rp 1.452 triliun.
Penyaluran kredit juga tercermin dari pergerakan sejumlah segmen utama. Kredit korporasi tumbuh 11,5 persen dengan fokus pada infrastruktur dan manufaktur. Segmen komersial meningkat 9,2 persen, terutama untuk perdagangan dan jasa. Kredit konsumer tumbuh 8,8 persen, dengan penopang berupa KPR dan pembiayaan kendaraan. Sementara kredit UMKM naik 7,5 persen dengan fokus pada ekonomi kreatif.
Dominasi segmen korporasi disebut selaras dengan upaya percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Namun, ekspansi kredit dalam skala besar juga meningkatkan kebutuhan penguatan manajemen risiko agar kualitas aset tetap terjaga.
Dalam merespons kondisi global, bank-bank besar menerapkan penilaian yang lebih selektif untuk memastikan debitur memiliki ketahanan finansial yang memadai. Langkah ini diarahkan untuk mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi global yang dapat berdampak pada kemampuan bayar debitur, sekaligus menjaga kepercayaan nasabah dan investor.
Sejumlah tahapan mitigasi risiko yang diterapkan mencakup penilaian kelayakan debitur melalui analisis arus kas dan proyeksi bisnis, pemantauan portofolio secara berkala untuk mendeteksi dini potensi kredit bermasalah, restrukturisasi proaktif bagi debitur yang terdampak fluktuasi ekonomi sebelum gagal bayar, serta penguatan cadangan kerugian untuk mengantisipasi penurunan kualitas aset.
Tekanan global—termasuk kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik—masih menjadi variabel yang sulit diprediksi. Karena itu, perbankan dituntut lebih adaptif dalam merespons perubahan kebijakan moneter, sekaligus menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian.
Di sisi lain, digitalisasi layanan perbankan mulai diposisikan sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi penyaluran kredit. Dengan sistem penilaian berbasis data, proses persetujuan kredit diarahkan agar lebih cepat dan akurat, sekaligus menekan biaya operasional.
Ke depan, proyeksi pertumbuhan kredit dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain stabilitas suku bunga acuan domestik, permintaan dalam negeri yang ditopang konsumsi rumah tangga, kecepatan realisasi proyek strategis nasional, serta kondisi likuiditas perbankan.
Untuk menjaga kualitas penyaluran, perbankan juga menekankan sejumlah syarat utama bagi debitur, seperti rekam jejak keuangan yang transparan dan akuntabel, rasio utang terhadap pendapatan yang sehat, ketersediaan agunan bernilai ekonomis, serta kepatuhan pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Pendekatan kehati-hatian juga tercermin dari penetapan profil risiko debitur. Debitur dengan risiko rendah—ditandai arus kas stabil dan utang minim—dapat memperoleh suku bunga yang lebih kompetitif. Debitur berisiko menengah, dengan pertumbuhan bisnis moderat, umumnya memperoleh suku bunga standar. Sementara debitur berisiko tinggi, misalnya yang memiliki ketergantungan impor tinggi, menghadapi pengetatan syarat agunan.
Dengan pertumbuhan kredit 9,96 persen, perbankan tetap memainkan peran sebagai penghubung modal ke sektor produktif sekaligus penopang aktivitas ekonomi. Namun, keberlanjutan momentum ini dinilai membutuhkan sinergi kebijakan moneter dan fiskal, terutama untuk meredam dampak tekanan global yang dapat membatasi ruang ekspansi perbankan.
Di tengah tantangan tersebut, inovasi produk dan efisiensi operasional menjadi faktor yang disebut menentukan daya tahan industri. Sementara bagi masyarakat dan pelaku usaha, optimisme tetap diperlukan, namun disertai kewaspadaan dalam mengelola keuangan di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung.