BERITA TERKINI
Prabowo Bertemu Trump di Washington, Indonesia-AS Sepakati Tarif Resiprokal 19% dan Nol Persen untuk 1.819 Produk

Prabowo Bertemu Trump di Washington, Indonesia-AS Sepakati Tarif Resiprokal 19% dan Nol Persen untuk 1.819 Produk

Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan bilateral langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, D.C., di sela agenda peluncuran Board of Peace (BoP), 19 Februari 2026. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut Prabowo menjadi satu-satunya kepala negara yang melakukan pertemuan bilateral dengan Trump di tengah rangkaian acara yang dihadiri lebih dari 15 pemimpin negara dan pemerintahan.

Pernyataan itu disampaikan Teddy kepada awak media di sela kunjungan kerja Presiden di Hotel Four Seasons, Washington DC, Jumat. “Kemarin ada lebih dari 15 kepala negara dan pemerintah yang hadir. Namun satu-satunya kepala negara yang melakukan bilateral langsung dengan Presiden Trump adalah Presiden Prabowo,” ujar Teddy.

Menurut Teddy, pertemuan tersebut dinilai menonjol di tengah padatnya agenda internasional. Ia menyebut pertemuan itu tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menghasilkan kesepakatan konkret di bidang perdagangan yang telah lama dibahas kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik yang memuat ketentuan tarif resiprokal sebesar 19 persen untuk produk impor Indonesia ke AS. Teddy mengatakan angka itu merupakan hasil negosiasi dibandingkan tarif sebelumnya. “Saya mau ingatkan lagi, jadi perjanjiannya memang 19 persen. Tahun lalu itu 32 persen, sekarang menjadi 19 persen,” tegasnya.

Selain tarif resiprokal 19 persen, perjanjian itu juga mencakup tarif 0 persen untuk 1.819 produk unggulan nasional dari sektor pertanian dan industri. Produk yang disebut antara lain kopi, kakao, minyak kelapa sawit, produk semikonduktor, serta sejumlah komoditas manufaktur bernilai tambah.

Usai penandatanganan perjanjian perdagangan, Prabowo dan Trump melanjutkan pembicaraan tertutup selama kurang lebih 30 menit. Meski belum dirinci, pembahasan tersebut disebut mencakup sejumlah isu strategis, termasuk kerja sama investasi, stabilitas kawasan Indo-Pasifik, serta penguatan kemitraan ekonomi jangka panjang kedua negara.

Teddy menyampaikan pemerintah akan menunggu perkembangan lanjutan dari implementasi kesepakatan tersebut. “Kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat. Yang sekarang 19 persen ya, mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia. Kita tunggu saja,” katanya.

Kesepakatan ini juga diumumkan melalui laman resmi Gedung Putih. Dalam keterangan tersebut, kedua pemimpin menyampaikan apresiasi atas langkah cepat dan konsisten yang telah dilakukan kedua negara dalam mengimplementasikan perjanjian perdagangan timbal balik. “Mengingat kembali perjanjian bersejarah antara Amerika Serikat dan Republik Indonesia tentang perdagangan timbal balik SK 63, kedua pemimpin menyampaikan apresiasi atas langkah cepat dan konsisten yang telah dilakukan oleh kedua negara. Mereka juga menegaskan komitmen yang kuat untuk mengimplementasikan kesepakatan besar tersebut,” demikian petikan keterangan resmi.

Dalam laporan yang sama disebutkan, pengamat menilai kesepakatan ini penting bagi perekonomian nasional, terutama terkait upaya pemulihan dan penguatan daya saing ekspor Indonesia. Dengan penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen serta pembebasan tarif untuk ribuan produk unggulan, Indonesia dinilai berpeluang meningkatkan volume ekspor dan memperluas penetrasi pasar di Amerika Serikat.

Pemerintah menyatakan akan menindaklanjuti implementasi teknis perjanjian melalui koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, agar manfaatnya dapat dirasakan pelaku usaha nasional. Kesepakatan ini disebut menandai babak baru kerja sama ekonomi Indonesia–Amerika Serikat dengan harapan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia.