BERITA TERKINI
Purbaya: Pendekatan “Soemitronomics” Perkuat RI Hadapi Krisis Global dengan Menjaga Permintaan Domestik

Purbaya: Pendekatan “Soemitronomics” Perkuat RI Hadapi Krisis Global dengan Menjaga Permintaan Domestik

Ketidakpastian ekonomi yang dipicu faktor eksternal dinilai hampir selalu mewarnai perekonomian nasional setiap tahun. Namun, optimisme dinilai tetap terbuka selama pemerintah mampu menjaga dan mengelola permintaan domestik.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Indonesia terbukti mampu melalui berbagai krisis ekonomi global ketika menggunakan pendekatan “kearifan lokal” atau local wisdom. Hal itu disampaikannya dalam acara LPS Financial Festival di Medan, Sumatra Utara, Rabu (20/8/2025).

Menurut Purbaya, pendekatan tersebut telah diperkenalkan jauh sebelum Indonesia merdeka oleh Profesor Soemitro Djojohadikusumo pada 1943. Ia menyebut Soemitro dalam disertasinya mengenalkan trilogi pembangunan yang menekankan tiga pilar, yakni pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis.

Dalam konteks trilogi itu, Soemitro yang pernah menjabat Menteri Keuangan RI pada 1955–1956 menekankan pentingnya stabilitas perbankan. Purbaya mengatakan Soemitro mengambil pelajaran dari peristiwa The Great Depression pada akhir 1920-an di Amerika Serikat dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia pada masa itu.

Purbaya menilai “kearifan lokal” yang ia sebut sebagai Soemitronomics terbukti efektif meredam dampak krisis ekonomi global. Ia mencontohkan krisis global 2008 akibat subprime mortgage di AS dan periode pandemi Covid-19 pada 2020–2021, yang menurutnya dapat dilalui karena ekonomi Indonesia bertumpu pada permintaan domestik.

Untuk krisis 2008, Purbaya menilai respons kebijakan ekonomi saat itu tepat karena aktivitas ekonomi tetap berjalan, ditopang oleh ketersediaan likuiditas melalui pertumbuhan uang beredar. Ia juga menyebut pola serupa terlihat pada masa pandemi Covid-19. Meski kondisi saat itu disebut hampir kolaps, pemerintah dinilai cepat mengubah respons melalui pelonggaran secara terbatas sehingga Indonesia keluar dari resesi dan kembali mencatat pertumbuhan positif.

Situasi tersebut, kata Purbaya, berbeda dengan krisis moneter 1997–1998. Ia menilai respons kebijakan pada periode itu membingungkan karena suku bunga naik hingga 60 persen, sementara uang beredar tumbuh lebih dari 100 persen. Dampaknya, pelaku usaha enggan meminjam ke bank akibat suku bunga tinggi, sementara uang beredar yang melimpah disebut digunakan untuk kembali menekan rupiah.

Dari tiga episode krisis tersebut, Purbaya menyimpulkan dua di antaranya—krisis global 2008 dan pandemi Covid-19—dapat dilalui lebih baik karena menggunakan pendekatan local wisdom. Sementara krisis 1998 dinilai meninggalkan dampak yang dalam karena menggunakan “resep dari luar”. Ia menekankan pentingnya fokus pada kekuatan domestik dengan memanfaatkan permintaan domestik.

Terkait target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen, Purbaya menilai angka tersebut realistis, terutama jika didukung kontribusi pertumbuhan ekonomi dari daerah. Ia menyebut ekonomi yang bertumpu pada pasar, sawah, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai penopang ekonomi nasional.

Ia juga menyinggung kinerja ekonomi Sumatra Utara yang dinilai relatif lebih kuat dalam menopang perekonomian nasional. Menurutnya, hal itu didukung sektor perkebunan dan pariwisata yang termasuk padat karya sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja.