BERITA TERKINI
Revenge Saving: Tren Menabung Agresif di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Revenge Saving: Tren Menabung Agresif di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

JAKARTA — Di tengah gejolak ekonomi global dan tekanan biaya hidup, muncul tren keuangan yang dikenal sebagai revenge saving. Istilah ini merujuk pada perilaku menabung secara sengaja dan agresif sebagai respons atas pengalaman konsumtif sebelumnya atau ketidakpastian finansial yang sedang berlangsung.

Berbeda dari kebiasaan menabung pada umumnya, revenge saving dipandang sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan finansial di masa depan. Fokusnya bukan sekadar mengurangi pengeluaran, melainkan membangun simpanan yang lebih terencana untuk tujuan jangka menengah hingga panjang.

Fenomena ini mencuat setelah era revenge spending, yakni perilaku belanja besar-besaran yang terjadi setelah masa pembatasan sosial saat pandemi Covid-19. Kini, sebagian masyarakat beralih dari orientasi konsumsi ke upaya memperbesar tabungan.

Pergeseran tersebut tidak hanya terlihat di media sosial, tetapi juga tercermin dalam data statistik yang menunjukkan peningkatan tabungan di sejumlah negara maju. Sentimen menabung agresif menguat seiring munculnya kesadaran bahwa kondisi ekonomi dinilai belum sepenuhnya stabil.

Sejumlah faktor disebut ikut mendorong tren ini, antara lain inflasi yang tinggi, fluktuasi pasar kerja, serta kekhawatiran terhadap resesi. Dalam konteks tersebut, keamanan finansial menjadi prioritas yang semakin menonjol.

Dari sisi psikologis, revenge saving dapat dipahami sebagai upaya individu untuk mendapatkan kembali kendali atas keuangan setelah merasa “kehilangan kontrol” akibat belanja berlebihan atau tekanan ekonomi. Menabung kemudian menjadi langkah strategis untuk membangun rasa aman.

Pada 2025, tren ini tercatat dalam angka. Di Amerika Serikat, data personal savings rate atau tingkat tabungan pribadi meningkat bertahap sepanjang tahun. MarketWatch mencatat tingkat tabungan pribadi naik dari sekitar 4,1 persen pada Januari 2025 menjadi 4,9 persen pada April 2025.

Peningkatan tabungan juga dilaporkan tidak hanya terjadi pada kelompok berpenghasilan tinggi. Sejumlah perusahaan mencatat kenaikan partisipasi karyawan dalam program tabungan darurat melalui rekening yang disponsori tempat kerja, dengan saldo program tabungan darurat tumbuh lebih dari 30 persen secara tahunan (year on year).