BERITA TERKINI
Riset Kiwoom: Tahun Fire Horse 2026 Bisa Picu Rotasi Sektor Cepat, Strategi Buy-and-Hold Dinilai Tertekan

Riset Kiwoom: Tahun Fire Horse 2026 Bisa Picu Rotasi Sektor Cepat, Strategi Buy-and-Hold Dinilai Tertekan

Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia memandang 2026 bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender pasar. Tahun yang dalam penanggalan Tiongkok dikenal sebagai Fire Horse diposisikan sebagai fase perubahan aliran uang: bergerak lebih cepat, lebih agresif, dan cenderung hanya singgah pada sektor yang memiliki cerita pertumbuhan paling jelas.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai karakter pasar pada periode tersebut berpotensi agresif, volatil, sekaligus selektif terhadap arah likuiditas. Ia menyebut strategi buy-and-hold tradisional berisiko tergerus oleh inflasi dan volatilitas, seiring pasar yang dinilai akan bergerak dalam rotasi sektor yang sangat cepat.

Dalam laporan riset bertajuk Year of the Fire Horse 2026, Kiwoom menggunakan metafora Feng Shui bukan sebagai ramalan, melainkan kerangka untuk menjelaskan siklus energi pasar. Pertemuan elemen kayu dan api dimaknai sebagai fase akselerasi, yakni periode ketika sesuatu yang telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir menemukan momentum untuk melonjak, namun dengan penekanan pada skalabilitas.

Kiwoom menggambarkan implikasinya di bursa secara lebih konkret: likuiditas tidak lagi menyebar merata ke seluruh sektor. Dana dinilai bergerak cepat, berpindah dari satu tema ke tema lain, dan hanya bertahan pada saham-saham yang memiliki kemampuan bertumbuh secara terukur dan dapat ditingkatkan skalanya.

Dalam konteks itu, Kiwoom memperkenalkan konsep yang disebut sebagai “anatomi Fire Horse”, yakni fase konvergensi berbagai faktor yang membentuk karakter pasar baru. Faktor tersebut mencakup transformasi pasar—termasuk isu transparansi bursa di Indonesia yang disorot lembaga internasional seperti MSCI—serta volatilitas dan perubahan perilaku investor yang semakin berbasis momentum.

Kiwoom juga menyoroti bahwa kenaikan indeks tidak lagi identik dengan keuntungan bagi semua pelaku pasar. Menurut Liza, imbal hasil berpotensi lebih terkonsentrasi pada sektor tertentu. Kondisi ini disebut menciptakan siklus pertumbuhan agresif bagi sektor-sektor yang berbasis ekspansi cepat dan skalabilitas.

Selain membaca arah pergerakan indeks dan arus dana, riset tersebut membedah siklus pasar melalui kerangka “The Elemental Market Cycle: From Inception to Liquidity”, yang memetakan perjalanan sebuah tema investasi sejak lahir hingga menjadi pusat likuiditas menggunakan analogi lima elemen.

Pada fase awal (elemen kayu), sebuah sektor atau emiten masih berada di tahap perintisan. Narasi mulai terbentuk, tetapi belum menjadi perhatian utama pelaku pasar. Harga saham biasanya masih relatif rendah karena validasi fundamental dinilai belum sepenuhnya terlihat.

Ketika proyek mulai berjalan dan kinerja keuangan menunjukkan pertumbuhan, pasar memasuki fase api. Elemen ini menggambarkan puncak valuasi dan perhatian publik. Momentum harga tidak hanya ditopang ekspektasi, tetapi juga eksposur tinggi dan narasi yang semakin kuat.

Setelah fase ekspansi, siklus bergerak ke elemen bumi yang mencerminkan konsolidasi aset fisik. Pada tahap ini volatilitas disebut mulai meningkat dan investor mencari penopang yang lebih nyata. Aset dengan basis fundamental kuat dinilai menjadi jangkar ketika euforia mulai mereda.

Tahap berikutnya adalah elemen logam, yang dikaitkan dengan pengetatan regulasi dan fokus pada efisiensi. Dalam fase ini, tata kelola dinilai menjadi faktor kunci agar emiten tetap bertahan. Pasar dinilai tidak lagi memberi premi hanya pada pertumbuhan, melainkan pada kualitas struktur keuangan dan governance.

Proyeksi perubahan fase pasar pada 2026 juga menyentuh peran saham defensif yang selama ini kerap menjadi jangkar portofolio. Dalam riset tersebut, Liza menilai stabilitas tidak lagi otomatis berbanding lurus dengan kinerja terbaik.

Kiwoom menempatkan sektor berbasis ekonomi digital, infrastruktur data, kecerdasan buatan, hingga transisi energi sebagai kandidat utama tujuan likuiditas. Sektor-sektor itu dinilai memiliki model bisnis yang mampu tumbuh eksponensial serta menawarkan proyeksi arus kas jangka panjang yang lebih terukur.

Dalam fase yang sama, saham-saham yang berada di pusat agenda strategis nasional, proyek hilirisasi, transisi energi, serta komoditas yang diuntungkan oleh dinamika geopolitik disebut memiliki peluang lebih besar menjadi penggerak utama pasar. Dukungan kebijakan dan keberanian belanja modal dipandang sebagai katalis yang dapat meningkatkan visibilitas kinerja emiten di mata investor.

Kesimpulan riset tersebut menekankan pergeseran peta permainan di Bursa Efek Indonesia menuju pasar yang lebih taktis. Stabilitas tetap dibutuhkan, namun tidak lagi diposisikan sebagai sumber pertumbuhan utama. Likuiditas dinilai akan terus mencari sektor yang menawarkan cerita ekspansi paling meyakinkan dan kemampuan menghasilkan pertumbuhan dalam waktu relatif cepat.