BERITA TERKINI
BANDARA SOEKARNO-HATTA DITUTUP DAN "KE JAKARTA AKU KAN KEMBALI"

BANDARA SOEKARNO-HATTA DITUTUP DAN "KE JAKARTA AKU KAN KEMBALI"

Oleh Denny JA

Tiga puluh menit setelah meninggalkan Bali, pesawat itu berbalik arah. Jakarta tak bisa menerima mereka. Langit menuju ibu kota telah menjadi wilayah terlarang.

Dua kolega dalam rombongan saya ternyata kembali mendarat di Denpasar. Mereka sudah terbang menuju Jakarta, tetapi sebuah gunung memaksa mereka pulang kembali.

Sore itu kami memahami sesuatu yang sederhana. Untuk menyadari betapa kecilnya manusia, kadang kita hanya memerlukan sebuah gunung yang mengembuskan abu.

-000-

Pada awal September 2026, Anak Krakatau kembali mengingatkan kita. Peradaban modern, dengan segala teknologi dan kecanggihannya, tetap hidup berdampingan dengan kekuatan alam.

Sejak Jumat malam, 4 September, aktivitas gunung di Selat Sunda itu meningkat. Menurut pantauan PVMBG dan VAAC Darwin, abu vulkanik membubung hingga sekitar 50.000 kaki.

Angin membawa abu melintasi Banten, Jakarta, Jawa Barat, sebagian Sumatra, serta jalur penerbangan yang menghubungkan Jakarta dengan berbagai kota dan negara.

Dampaknya segera terasa. Soekarno-Hatta dan beberapa bandara lain menghentikan operasi. Berdasarkan data AirNav Indonesia, sedikitnya 301 penerbangan, termasuk 58 penerbangan internasional, dilaporkan terdampak.

Perhitungan lain dari otoritas bandara mencatat sekitar 516 pergerakan penerbangan terganggu, menyentuh perjalanan sekitar 22.800 penumpang. Di balik angka itu terdapat ribuan cerita manusia.

Ada orang tua menunggu anaknya. Ada rapat yang tertunda. Ada keluarga yang gagal bertemu. Ada perjalanan pulang yang mendadak kehilangan kepastian.

Anak Krakatau bukan gunung yang asing dengan kegelisahan manusia. Ia tumbuh dari kawasan Krakatau setelah letusan dahsyat tahun 1883 mengubah wajah Selat Sunda.

Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh gunung itu runtuh setelah erupsi. Runtuhannya memicu tsunami Selat Sunda yang menewaskan lebih dari 400 orang.

September ini ancamannya berbeda. Bukan gelombang besar yang menghentikan perjalanan manusia, melainkan partikel-partikel kecil yang beterbangan ribuan meter di atas bumi.

Di situlah paradoks alam terasa. Sesuatu yang nyaris tak terlihat dapat menghentikan pesawat berbobot ratusan ton dan melumpuhkan jaringan perjalanan sebuah negara.

-000-

Bagi saya, semua angka itu bukan statistik. Saya termasuk di antara ribuan orang yang hari itu tidak dapat kembali ke Jakarta.

Pesawat saya dibatalkan. Saya tertahan di Bali. Pada layar telepon, notifikasi yang semula bertuliskan "on time" berubah menjadi "cancelled" dalam hitungan menit.

Rombongan kami mulai berdiskusi. Pertanyaannya sederhana: bagaimana kami dapat kembali ke Jakarta secepat mungkin, tetapi tetap menempatkan keselamatan di atas segalanya?

Kami membuka peta Indonesia. Perjalanan yang biasanya hanya memerlukan satu penerbangan mendadak menyerupai ekspedisi kecil menyeberangi pulau, selat, dan kota.

Seseorang mengusulkan kita terbang dulu menuju Surabaya. Dari sana kami dapat melanjutkan dengan kereta. Semarang dan Yogyakarta ikut disebut sebagai pintu masuk menuju Jakarta.

Pilihan lain lebih panjang. Kami dapat naik kapal laut, menyeberang menuju Banyuwangi, kemudian bergerak melalui jalur darat melintasi Jawa sampai akhirnya tiba di ibu kota.

Akhirnya malam tiba lebih dahulu daripada keputusan. Kami memperpanjang hotel. Koper yang sudah tertutup kembali dibuka. Pakaian untuk esok kembali dikeluarkan.

Saat itulah saya teringat lagu Koes Plus berjudul Kembali ke Jakarta. Ada penggalan yang tiba-tiba terasa sangat personal: "Ke Jakarta aku kan kembali. Walaupun apa yang kan terjadi."

Biasanya kalimat itu terdengar seperti kerinduan. Malam itu maknanya berbeda. Ia bukan lagi sekadar penggalan lagu. Ia menjelma menjadi sebuah harapan kecil.

-000-

Kita hidup dalam zaman yang membuat manusia terbiasa merasa berkuasa atas waktu. Hampir seluruh kehidupan modern disusun melalui kalender, jadwal, dan aplikasi.

Ada tiket elektronik. Ada jam keberangkatan. Ada nomor kursi. Ada notifikasi on time. Perjalanan ribuan kilometer dapat direncanakan hingga hitungan menit.

Lalu sebuah gunung mengembuskan abu ke langit. Dalam beberapa jam, seluruh kepastian yang disusun manusia dengan begitu rapi mendadak kehilangan kekuasaannya.

Sejarah penerbangan pernah menyaksikan gangguan jauh lebih besar. Pada April 2010, Gunung Eyjafjallajökull di Islandia meletus dan mengacaukan penerbangan Eropa.

Erupsinya bukan yang terbesar. Namun abu bergerak menuju salah satu kawasan dengan lalu lintas udara terpadat di dunia. Lebih dari 100.000 penerbangan dibatalkan.

Jutaan penumpang terdampak. Terminal dipenuhi manusia yang menunggu. Kota-kota yang biasanya hanya berjarak beberapa jam mendadak terasa begitu jauh satu sama lain.

Penyebabnya bukan perang, terorisme, ataupun kerusakan komputer. Kekacauan global itu datang dari sesuatu yang tampak sederhana: abu vulkanik yang tertiup angin.

Abu dapat masuk ke mesin jet, meleleh dalam temperatur tinggi, kemudian menempel pada komponen mesin hingga berpotensi menyebabkan hilangnya daya dorong.

Karena itu menghentikan penerbangan bukanlah kepanikan. Dalam industri yang mempertaruhkan nyawa manusia, kehati-hatian merupakan salah satu bentuk keberanian paling penting.

-000-

Pengalaman kecil tertahan di Denpasar ini sejatinya memantulkan pola berulang sejarah. Dua literatur klasik membantu saya memahami bagaimana ketinggian teknologi modern kerap bertekuk lutut di hadapan napas purba bumi.

Pertama, Island on Fire, karya Alexandra Witze dan Jeff Kanipe, diterbitkan Profile Books pada 2014. Buku ini berkisah tentang letusan Laki di Islandia.

Pada 1783, Laki meletus berbulan-bulan. Gas dan material vulkanik menyebar jauh. Pertanian rusak, ternak mati, kualitas udara memburuk, dan kehidupan manusia terguncang.

Buku itu membawa satu kesadaran penting. Dalam dunia yang saling terhubung, bencana yang lahir di satu tempat dapat menghasilkan konsekuensi ribuan kilometer jauhnya.

Dunia modern bahkan lebih rentan. Bandara, perdagangan, pariwisata, rantai pasok, dan mobilitas manusia kini terhubung dalam sebuah jaringan yang sangat kompleks.

Kita membangun jaringan itu dengan asumsi kestabilan. Padahal bumi yang menopang seluruh sistem tersebut bukan benda mati. Ia terus bergerak dan berubah.

-000-

Buku kedua, Volcanic Ash and Aviation Safety, disunting Thomas J. Casadevall dan diterbitkan U.S. Government Printing Office pada 1994, memberi konteks teknis.

Abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori badan pesawat. Material ini dapat membahayakan mesin, kaca kokpit, sensor, serta berbagai sistem penting penerbangan.

Sejarah memberikan contoh dramatis. Pada 24 Juni 1982, Penerbangan British Airways 009 memasuki awan abu Gunung Galunggung dan kehilangan daya pada keempat mesinnya.

Pesawat akhirnya selamat setelah keluar dari awan abu dan mesin dapat dinyalakan kembali. Namun peristiwa itu menjadi pelajaran penting bagi penerbangan dunia.

Pelajarannya melampaui dunia penerbangan. Dalam lingkungan berisiko tinggi, keberanian tidak selalu berarti maju. Kadang-kadang, keberanian terbesar justru keberanian untuk berhenti.

-000-

Apakah penutupan bandara berlebihan ketika kerugian ekonomi dan gangguan perjalanan begitu besar? Pertanyaan itu sah, terutama dalam dunia yang bergantung pada konektivitas.

Otoritas harus menghindari dua ekstrem. Jangan meremehkan bahaya. Jangan pula melumpuhkan penerbangan tanpa dasar risiko yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Teknologi membuat keputusan semakin presisi. Data satelit, arah angin, konsentrasi abu, ketinggian awan, dan posisi jalur penerbangan dapat terus diperbarui setiap saat.

Prinsipnya sederhana. Ekonomi dapat dipulihkan. Jadwal dapat disusun kembali. Tiket dapat diterbitkan ulang. Tetapi nyawa yang hilang tidak pernah dapat diterbitkan kembali.

-000-

Malam itu saya masih berada di Bali. Jakarta tidak bertambah jauh secara geografis, tetapi terasa berbeda ketika langit belum memberikan jalan untuk pulang.

Anehnya, saya tidak lagi melihat pembatalan penerbangan hanya sebagai gangguan. Ada sesuatu yang lebih mendalam sedang diperlihatkan alam melalui pengalaman sederhana itu.

Kita sering mengukur kemajuan dari kemampuan menaklukkan jarak. Dahulu perjalanan antarpulau memerlukan hari. Kini pesawat membuatnya hanya beberapa jam saja.

Namun kemajuan juga berarti memiliki kebijaksanaan mengetahui kapan kita tidak boleh memaksakan perjalanan. Ada risiko yang memang tidak layak untuk ditantang.

Saya memandang koper yang kembali terbuka. Jakarta menunggu. Pekerjaan menunggu. Rumah menunggu. Tetapi malam itu kami harus berdamai dengan keadaan.

Tidak semua penundaan adalah kekalahan. Kadang-kadang hidup meminta kita berhenti sebentar agar dapat melanjutkan perjalanan dengan selamat pada waktu yang lebih tepat.

Saya kembali teringat lagu Koes Plus itu: "Ke Jakarta aku kan kembali." Kini penggalan sederhana tersebut mempunyai makna yang sama sekali berbeda.

Kita dapat menentukan tujuan, membeli tiket, dan memilih waktu keberangkatan. Namun kehidupan selalu menyisakan ruang bagi sesuatu yang berada di luar rencana kita.

Kita boleh menentukan ke mana hendak pulang. Tetapi sesekali alamlah yang menentukan kapan langit membuka jalan.***

Bali, 6 September 2026

REFERENSI

Casadevall, Thomas J. (ed.). Volcanic Ash and Aviation Safety. U.S. Geological Survey Bulletin 2047. U.S. Government Printing Office, 1994.

Witze, Alexandra & Jeff Kanipe. Island on Fire: The Extraordinary Story of Laki, the Forgotten Volcano That Turned Eighteenth-Century Europe Dark. Profile Books, 2014.