Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) mengawali pekan dengan pergerakan terbatas. Rupiah tercatat stagnan di level Rp16.978 per dolar AS, mencerminkan sikap “wait and see” pelaku pasar terhadap rangkaian data ekonomi global yang dijadwalkan rilis sepanjang pekan ini, terutama dari Amerika Serikat dan China, di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Dari sisi global, perhatian utama tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya nonfarm payrolls. Data tersebut diperkirakan hanya bertambah sekitar 55.000. Jika proyeksi itu terealisasi, kondisi tersebut dinilai akan mengonfirmasi pelemahan pasar tenaga kerja AS.
Pelemahan pasar tenaga kerja semestinya membuka ruang bagi meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter. Namun, di saat yang sama, tekanan inflasi global yang dipicu lonjakan harga minyak membuat ekspektasi pelonggaran tersebut dinilai semakin menipis.
Dari Asia, rilis Purchasing Managers’ Index (PMI) China menjadi indikator kunci yang akan dipantau. Meski diperkirakan masih berada di bawah level ekspansi 50, perlambatan laju kontraksi dipandang dapat memberi sinyal bahwa stimulus domestik yang dilakukan China mulai memberikan dampak, meski belum cukup kuat untuk menahan pengaruh kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok.
Sementara itu, dari Jepang, survei Tankan diproyeksikan tetap mencerminkan ketahanan sektor korporasi, meski diiringi pelemahan produksi industri yang mengindikasikan tekanan dari sisi eksternal. Di sisi lain, Korea Selatan disebut masih solid pada kinerja ekspor, yang ditopang oleh siklus kenaikan di sektor semikonduktor.