Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bersama tim Indonesia Entrepreneurship Education Forum (IEEF) menyelenggarakan program literasi keuangan terintegrasi di Desa Mertak. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas ekonomi warga melalui peningkatan pemahaman pengelolaan keuangan dan perencanaan usaha.
Kegiatan berawal dari proses identifikasi kebutuhan desa yang difasilitasi aplikasi Desanesha, platform milik Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Kepakaran (DPMK) ITB. Melalui platform tersebut, pemerintah desa menyampaikan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi sekaligus terhubung dengan pakar serta dosen ITB.
“Melalui aplikasi Desanesha, kami berdialog dengan pemerintah desa mengenai berbagai hambatan yang dirasakan di Desa Mertak. Platform ini menjadi sarana formal bagi kami untuk menindaklanjuti kebutuhan pemerintah desa dan masyarakat,” ujar Anisya Nurfitri Kustyani dari Tim Riset SBM ITB dan IEEF.
Dari rangkaian komunikasi dan diskusi, tim menemukan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat masih tergolong rendah. Padahal, Desa Mertak merupakan desa penyangga kawasan pariwisata strategis Mandalika yang memiliki potensi geografis dan ekonomi besar. Namun, pertumbuhan pariwisata yang pesat dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi yang optimal bagi masyarakat setempat.
Selain literasi keuangan yang terbatas, tim juga mencatat adanya keterbatasan kapasitas pengelolaan usaha dan kesiapan kelembagaan. Faktor-faktor tersebut dinilai membatasi partisipasi masyarakat dalam arus pertumbuhan ekonomi regional, sehingga mendorong perancangan program yang terintegrasi dan kontekstual sesuai kebutuhan desa.
Program ini merupakan kolaborasi lintas perguruan tinggi bersama akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Padjadjaran (Unpad), dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). SBM ITB berperan dalam penyusunan kurikulum literasi keuangan yang kontekstual, perancangan dan pelaksanaan pelatihan, pendampingan selama kegiatan, serta integrasi pendekatan akademik, riset, dan praktik dalam pengabdian kepada masyarakat. Program dipimpin dosen SBM ITB yang juga Executive Director IEEF, Dzikri Firmansyah Hakam.
Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari. Pada hari pertama dan kedua, tim IEEF–SBM ITB melakukan observasi lapangan serta pemetaan untuk memahami struktur ekonomi dan potensi pengembangan Desa Mertak. Berdasarkan diskusi dengan pemerintah desa, perekonomian setempat ditopang sektor pariwisata, seperti homestay, Pantai Batu Berang, dan hutan mangrove, serta sektor pertanian (jagung), perikanan, dan peternakan. Pengelolaan sektor-sektor tersebut dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Pada hari ketiga, hasil observasi diterjemahkan dalam bentuk workshop. Materi yang diberikan meliputi pengelolaan keuangan rumah tangga, perencanaan bisnis dasar, pencatatan keuangan sederhana bagi usaha mikro dan kecil, serta pengenalan instrumen investasi berisiko rendah.
Workshop diikuti sekitar 40–50 peserta. Tim mencatat antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif selama rangkaian kegiatan berlangsung. Evaluasi IEEF melalui metode pre-test dan post-test juga menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terkait pengelolaan keuangan yang lebih terstruktur serta pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang.
Sebagai luaran, tim menyusun modul literasi keuangan bagi masyarakat Desa Mertak yang diharapkan dapat menjadi referensi untuk pengembangan program serupa di wilayah lain. Program ini dinilai memiliki tingkat keberterapan tinggi karena literasi keuangan merupakan kebutuhan lintas sektor dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan pendekatan berbasis potensi lokal, model program ini dinilai berpeluang direplikasi di desa-desa lain, khususnya di sekitar destinasi wisata dan proyek strategis nasional.

