BERITA TERKINI
Serangan Siber Menguat, IPOT Tekankan Keamanan sebagai Fondasi Layanan Keuangan Digital

Serangan Siber Menguat, IPOT Tekankan Keamanan sebagai Fondasi Layanan Keuangan Digital

Jakarta — Risiko di sektor keuangan digital kini tidak hanya datang dari fluktuasi pasar, tetapi juga dari ancaman keamanan akses seperti phishing, pembobolan akun, hingga penyalahgunaan identitas digital. Kondisi ini mendorong pelaku industri jasa keuangan memperkuat sistem perlindungan nasabah.

Berdasarkan data International Cybersecurity Agencies, Indonesia menghadapi 514.508 aktivitas ransomware sepanjang 2024. Pada periode yang sama, tercatat 26.771.610 aktivitas terindikasi phishing serta total trafik anomali mencapai 330.527.636, dengan 81.286.596 anomali di antaranya disebabkan serangan Mirai Botnet.

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Moleonoto The mengatakan masifnya aktivitas siber membuat industri perlu meninjau ulang fondasi sistem digitalnya. Menurut dia, persaingan layanan keuangan selama ini kerap menonjolkan kecepatan transaksi dan kemudahan fitur, sementara aspek keamanan ditempatkan sebagai lapisan tambahan.

“Selama ini, banyak platform keuangan berlomba menawarkan kemudahan transaksi dan fitur cepat, namun sering kali menempatkan keamanan sebagai lapisan tambahan. Ketika terjadi gangguan sistem atau manipulasi akses akun, nasabah justru menjadi pihak paling rentan. IPOT melihat bahwa di lanskap keuangan digital saat ini, keamanan tidak boleh menjadi fitur opsional keamanan harus menjadi fondasi sistem,” kata Moleonoto, Kamis, 19 Februari 2026.

Dalam konteks tersebut, IPOT memperkenalkan xRDN, skema rekening dana nasabah berbasis pasar modal yang disebut dirancang untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni produktivitas dana dan ketahanan sistem keamanan. Moleonoto menjelaskan, dana pada Rekening Dana Nasabah (RDN) umumnya memberikan imbal hasil sekitar 0,02%–0,2% per tahun sehingga kerap menjadi “dana parkir” investor.

Melalui xRDN, IPOT menawarkan potensi imbal hasil sekitar ±2% per tahun. Namun perusahaan menegaskan produk ini bukan instrumen dengan imbal hasil tetap dan tetap mengikuti mekanisme pasar. “xRDN bukan instrumen spekulatif dan tidak menjanjikan imbal hasil tetap, tapi dikelola sesuai regulasi pasar modal Indonesia dengan prinsip transparansi dan perlindungan investor,” ujar Moleonoto.

Selain sisi imbal hasil, IPOT menyatakan menerapkan sistem keamanan tiga lapis. Skema ini diklaim menjaga agar ketika pengguna menjadi korban phishing, akun saham tetap terkunci dan tidak dapat disalahgunakan secara sepihak. IPOT juga menyebut rancangan keamanan xRDN tidak bergantung pada satu lapisan sistem, sehingga bila terjadi gangguan pada sistem eksternal seperti perbankan, dana nasabah tetap berada dalam struktur yang terisolasi dan aman.

IPOT memposisikan xRDN sebagai aset kas yang likuid dan lebih produktif bagi investor pasar modal, dengan asumsi bahwa risiko phishing dan peretasan merupakan ancaman nyata. Perusahaan juga menyebut xRDN dapat menjadi alternatif bagi masyarakat digital yang mencari cara menyimpan dana dengan likuiditas terjaga dan perlindungan berlapis.

Moleonoto menambahkan, pendekatan yang menempatkan keamanan sebagai fondasi disebut terlihat saat gejolak pasar pada akhir Januari 2026. Ia menyebut dalam periode volatilitas tersebut, IPOT mencatat masuknya dana investor dalam skala triliunan rupiah ke dalam ekosistem xRDN.

“Di saat banyak pihak fokus pada fitur dan pertumbuhan, kami memilih fokus pada fondasi. Dana nasabah harus produktif, tetapi sistemnya harus jauh lebih kuat. Security bukan tambahan, security adalah fondasi IPOT,” kata Moleonoto.