Konflik di Timur Tengah antara Iran melawan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung lebih dari satu bulan mulai memunculkan dampak di berbagai belahan dunia. Sejumlah negara dilaporkan membatasi aktivitas masyarakat karena kekhawatiran terjadinya krisis bahan bakar minyak (BBM).
Dampak konflik tersebut dinilai berpotensi menjalar hingga ke Indonesia, termasuk ke wilayah pedalaman Aceh. Menyikapi kemungkinan itu, sosiolog Aceh Prof Humam Hamid menyarankan Pemerintah Aceh memperkuat ekonomi rakyat sebagai langkah antisipasi menghadapi krisis global yang dipicu lonjakan harga energi.
Menurut Humam, meski konflik terjadi jauh dari Indonesia, dampaknya mulai dirasakan masyarakat, terutama melalui kenaikan harga bahan bakar, transportasi, dan kebutuhan pokok. “Sekarang saja sudah terasa. Sebentar lagi harga minyak, gas akan naik, ongkos transportasi naik, bahan kebutuhan akan inflasi,” kata Humam dalam Podcast Serambi Spotlight di Studio Serambinews.com, Sabtu (28/3/2026).
Ia menilai kenaikan biaya akibat energi akan berdampak langsung pada sektor-sektor ekonomi rakyat, khususnya perikanan dan pertanian. Kenaikan harga solar, misalnya, berpotensi menyulitkan nelayan untuk melaut. Di sisi lain, sektor pertanian dan perkebunan juga diperkirakan menghadapi peningkatan biaya produksi, mulai dari penggunaan alat hingga ongkos angkut hasil panen.
“Ongkos angkutan sayur dari Gayo naik, traktor petani, alat berat perkebunan, semuanya terdampak,” ujarnya. Humam menambahkan, masyarakat dapat merasakan konsekuensi ekonomi meski tidak terlibat langsung dalam konflik. “Kita tidak terlibat perang, tapi kita yang kena, dan itu sakit sekali,” katanya.
Humam mendorong Pemerintah Aceh menyiapkan langkah-langkah penguatan ekonomi rakyat agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Ia menekankan pentingnya program padat karya, kelancaran distribusi pupuk subsidi, serta pemanfaatan sumber energi di sekitar Aceh sebagai upaya antisipasi menghadapi tekanan ekonomi akibat krisis global.