Pertumbuhan industri teknologi finansial (fintech) mendorong perubahan perilaku investasi, termasuk di Indonesia. Jumlah investor ritel reksa dana tercatat mencapai 12 juta orang pada 2023, meningkat hingga empat kali lipat dibanding periode 2019–2023. Lonjakan ini turut ditopang kehadiran aplikasi investasi reksa dana yang menawarkan akses lebih mudah dan biaya terjangkau, dengan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Di tengah optimisme tersebut, penyedia aplikasi menghadapi tantangan mempertahankan loyalitas pengguna dan meningkatkan rata-rata investasi, terutama ketika tingkat literasi keuangan nasional masih berada pada 49% (2022).
Untuk memetakan faktor yang memengaruhi adopsi dan penggunaan berkelanjutan aplikasi investasi reksa dana, sebuah penelitian menggabungkan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) dan machine learning. Riset ini menganalisis keterkaitan antara kualitas layanan yang dirasakan, keamanan dan privasi, kepercayaan, familiaritas, kepuasan pengguna, serta continuance intention atau niat melanjutkan penggunaan. Penelitian melibatkan 514 responden aktif di Indonesia yang menggunakan aplikasi investasi reksa dana dan sudah pernah bertransaksi pembelian.
Hasil penelitian menempatkan kepercayaan (trust) sebagai fondasi utama dalam ekosistem investasi digital. Kepercayaan terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna dengan koefisien jalur 0,463 dan terhadap niat berkelanjutan dengan koefisien 0,194. Kepercayaan ini dibentuk oleh tiga pilar: persepsi kualitas layanan, jaminan keamanan dan privasi data, serta tingkat familiaritas pengguna terhadap platform.
Dari ketiga pilar tersebut, kualitas layanan menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi kepuasan pengguna, dengan koefisien 0,523. Kualitas layanan yang dimaksud mencakup desain sistem yang intuitif dan mudah dinavigasi, efisiensi pemenuhan transaksi jual-beli disertai informasi status yang jelas, serta responsivitas layanan pelanggan dalam menangani pertanyaan dan keluhan. Dalam konteks investasi yang menggunakan uang riil, elemen-elemen ini dinilai berkontribusi besar terhadap pengalaman pengguna.
Aspek keamanan dan privasi juga dinilai sangat krusial karena berpengaruh terhadap kepercayaan dengan koefisien 0,486. Pengguna memerlukan jaminan bahwa transaksi berjalan aman, data pribadi dan keuangan terlindungi, serta platform memiliki fitur keamanan yang ketat. Persepsi keamanan ini dinilai memperkuat kepercayaan dan berkontribusi pada kepuasan pengguna, terutama di tengah kerentanan layanan keuangan digital terhadap ancaman siber.
Temuan lain menyoroti peran familiaritas yang signifikan dalam membangun kepercayaan (β = 0,224) sekaligus mendorong niat berkelanjutan (β = 0,206). Familiaritas terhadap terminologi investasi, fitur aplikasi, dan mekanisme kerja reksa dana disebut dapat mengurangi kecemasan pengguna saat bertransaksi dan meningkatkan kenyamanan. Hal ini menguatkan pentingnya edukasi investasi yang terintegrasi di dalam aplikasi.
Validasi model menggunakan machine learning menunjukkan perbedaan pola prediksi antar variabel. Model linear regression dinilai paling efektif untuk memprediksi kepercayaan (R² = 0,985), sementara multilayer perceptron (MLP) unggul dalam memprediksi kepuasan pengguna (R² = 0,976) dan niat berkelanjutan (R² = 0,926). Perbedaan ini mengindikasikan pembentukan kepercayaan cenderung mengikuti pola yang lebih linear dan dapat diprediksi, sedangkan kepuasan dan niat melanjutkan penggunaan melibatkan interaksi variabel yang lebih kompleks dan nonlinier.
Penelitian ini menekankan implikasi praktis bagi penyedia layanan fintech maupun regulator. Penyedia aplikasi dinilai perlu memprioritaskan pembangunan kepercayaan melalui transparansi, penguatan keamanan sistem, serta perbaikan berkelanjutan berbasis umpan balik pengguna. Sementara itu, regulator diharapkan menjaga keseimbangan antara perluasan inklusi keuangan dan stabilitas pasar melalui regulasi yang efektif tanpa menghambat inovasi.

