BERITA TERKINI
Survei: 75% Gen Z Menilai Sewa Hunian Lebih Cerdas secara Finansial

Survei: 75% Gen Z Menilai Sewa Hunian Lebih Cerdas secara Finansial

Mimpi membeli rumah kian sulit dijangkau banyak anggota Generasi Z (Gen Z), terutama di kota-kota besar. Kenaikan harga tanah dan properti dinilai tidak sejalan dengan pertumbuhan penghasilan, sehingga sebagian memilih menyewa sebagai opsi yang lebih realistis.

Merujuk artikel Business Insider, porsi pembeli rumah pertama di Amerika Serikat dari kalangan Gen Z tercatat 24%. Angka tersebut disebut turun drastis hingga 50% dibanding 2010. Dalam laporan yang sama, sekitar 75% Gen Z memandang menyewa sebagai keputusan finansial yang lebih cerdas. Sementara itu, 83% responden melihat sewa sebagai cara untuk menabung demi pengalaman hidup.

Pandangan tersebut tercermin dari pengalaman Jessica Castello, seorang product manager di salah satu bank di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Jessica mengatakan lebih nyaman menyewa hunian dibanding membeli rumah karena pertimbangan finansial dan kebutuhan fleksibilitas. Perempuan asal Riau itu telah tinggal di coliving Rukita Rukosta Jelambar selama dua tahun.

Menurut Jessica, mengambil pinjaman bank dengan tenor panjang dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan Gen Z yang mengutamakan kebebasan dan fleksibilitas. “Apalagi bila mengambil pinjaman ke bank dengan tenor yang panjang, ini tidak fleksibel bagi Gen Z yang mengutamakan kebebasan dan fleksibilitas seperti saya,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Varrel Vendira (26), penghuni coliving Rukita Askara Tanah Abang yang bekerja sebagai HR di salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia. Ia menilai dengan biaya sewa bulanan yang setara cicilan rumah, dirinya dapat tinggal di pusat kota. “Dengan harga sewa bulanan sama seperti cicilan rumah, saya bisa tinggal di pusat kota. Tapi, kalau beli rumah pasti dapatnya di pinggiran Jakarta,” kata Varrel.

Jessica dan Varrel disebut sejalan dengan survei Inventure mengenai ketertarikan generasi muda terhadap kepemilikan hunian di lima kota besar Indonesia, yakni Jabodetabek, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Dikutip dari GoodStats, sebanyak 34% Gen Z memilih menyewa agar tetap fleksibel secara finansial dan mobilitas, sementara 38% menyatakan lebih tertarik pada skema rent-to-own untuk memiliki rumah secara bertahap.

Secara lebih luas, pergeseran pola pikir terhadap pembelian rumah pertama pada generasi muda—Gen Z dan milenial—disebut sebagai tren global. Kesiapan finansial menjadi salah satu faktor utama turunnya minat membeli rumah. Kenaikan harga properti yang berkelanjutan turut memunculkan kekhawatiran soal kemampuan membayar cicilan KPR dalam jangka panjang.

Survei Populix juga menunjukkan 66% responden mengaku belum siap secara finansial sehingga pembelian rumah bukan lagi prioritas. Dalam konteks ini, Varrel menilai tinggal di coliving dekat kantor dengan sewa bulanan sudah memenuhi kebutuhannya akan hunian yang nyaman dan praktis. Ia juga menyoroti kemudahan berpindah bila suatu saat harus bekerja di luar kota atau luar negeri.

Sementara itu, Jessica mengatakan memilih menyewa agar dapat mengatur keuangan sesuai kebutuhan pribadi saat ini. Ia mengaku menerapkan rumus 40-30-30 dalam mengelola pendapatan: 40% untuk kebutuhan sehari-hari termasuk sewa hunian, 30% untuk investasi seperti logam mulia dan saham, serta 30% untuk gaya hidup seperti bepergian atau berkumpul bersama teman.

Selain faktor finansial dan mobilitas, coliving juga dinilai menawarkan kepraktisan. Jessica mengaku betah meski jarak tempat tinggalnya ke kantor sekitar 30–45 menit. Ia menyebut fasilitas seperti kamar mandi dalam, rooftop, fleksibilitas jam pulang, serta keamanan membuatnya merasa nyaman.

Varrel juga menceritakan pengalaman sosial selama tinggal di coliving. Ia mengatakan kedekatan antarpenghuni, aktivitas bersama, hingga ketersediaan area komunal dan rooftop membuat tempat tinggalnya terasa seperti rumah kedua. Jessica pun menyebut keberadaan komunitas dan jejaring pertemanan menjadi support system selama merantau.