BERITA TERKINI
Tarif Tol Dinilai Memberatkan, Truk Logistik Masih Dominasi Jalur Pantura

Tarif Tol Dinilai Memberatkan, Truk Logistik Masih Dominasi Jalur Pantura

Pembangunan jalan tol dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada pelaku logistik. Tarif tol yang tinggi disebut memberatkan pengusaha, sehingga angkutan barang masih banyak memilih jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa ketimbang melintas tol.

Data Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menunjukkan, ruas tol Jakarta–Surabaya mampu memangkas waktu tempuh truk logistik dari sekitar 25–27 jam menjadi 13–15 jam. Pemangkasan waktu ini dinilai membantu mempercepat distribusi, terutama untuk barang yang sensitif terhadap durasi pengiriman.

Waktu tempuh lebih cepat, tetapi biaya dinilai tinggi

Meski infrastruktur tol disebut berdampak positif, pemanfaatannya oleh angkutan logistik dinilai belum optimal. Truk logistik masih mendominasi Pantura.

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Antar Institusi Internasional ALI, Adhitya Sari, menilai jalan tol semestinya banyak digunakan truk. Namun, mahalnya tarif tol untuk kendaraan logistik membuat banyak pelaku transportasi memilih Pantura untuk menghindari biaya tol. Pernyataan itu disampaikan dalam acara “2024 Growth Opportunites: Navigating Indonesia’s Supply Chain and Logistics Landscape” di Jakarta, Selasa (16/1/2024).

Adhitya menyebut biaya tol untuk kendaraan logistik masih memberatkan, dengan proporsi mencapai sekitar 20 persen dari total biaya transportasi. Selain itu, pungutan liar (pungli) juga disebut menjadi komponen yang menambah beban biaya logistik kendaraan darat.

Tarif Jakarta–Surabaya dan dominasi moda darat

Ketua ALI Mahendra Rianto mengatakan, mayoritas angkutan logistik masih memanfaatkan transportasi darat, meski biaya yang ditanggung dinilai paling mahal dibandingkan penggunaan kereta api dan kapal.

Berdasarkan data Badan Pengatur Jalan Tol, tarif tol dari Jakarta hingga Surabaya (Warugunung) untuk golongan I sebesar Rp 719.000. Besar tarif meningkat untuk golongan di atasnya, mulai dari Rp 1,1 juta untuk golongan II (truk dua gandar) hingga Rp 1,2 juta untuk golongan V (truk lima gandar).

Alternatif: kereta dan kapal roro

Menurut Adhitya, terdapat moda transportasi lain yang dapat menekan biaya logistik dan membuat distribusi lebih efisien. Kereta api disebut berpotensi mengurangi ketergantungan pada transportasi darat karena daya angkutnya besar serta dapat membantu mengurangi kepadatan di Pantura. Namun, kontribusi kereta api terhadap total moda transportasi logistik di darat disebut baru sekitar 2 persen.

Selain itu, transportasi laut antarpulau dapat diupayakan melalui pemanfaatan kapal roll-on/roll-off (roro). Kapal ini dapat mengangkut penumpang sekaligus melakukan bongkar-muat barang, yang diharapkan dapat membantu menormalkan biaya logistik menjadi lebih murah.

Usulan potongan tarif dan subsidi bagi angkutan logistik

Mahendra menilai, truk logistik tidak akan kembali menggunakan jalur tol jika tarif tetap tinggi, termasuk ketika larangan melintas diterapkan tanpa disertai penyesuaian tarif.

Akademisi Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Suripno, berpendapat pemerintah seharusnya memberikan potongan tertentu bagi angkutan logistik sebagai pengguna jalan tol. Jika tarif sepenuhnya ditentukan pengelola jalan tol, orientasinya dinilai masih bisnis, sementara kebijakan publik dibutuhkan untuk menekan biaya logistik.

Suripno juga menyoroti belum adanya pembatasan jumlah kendaraan pribadi dan logistik di jalan tol. Menurut dia, diperlukan kebijakan subsidi dari pemerintah agar tarif tol kendaraan logistik dapat diturunkan. Ia menilai tarif tol kendaraan pribadi semestinya dapat menyubsidi tarif tol kendaraan logistik karena kendaraan pribadi memiliki lebih banyak pilihan akses jalan.

Biaya logistik turun, digitalisasi menjadi tren

Dalam konteks integrasi pasar logistik Indonesia, upaya menekan biaya logistik disebut mulai terlihat seiring meningkatnya persaingan dan berlanjutnya pembangunan infrastruktur.

Director of Supply Chain and Logistics Practice Frost and Sullivan menyebut pemerintah Indonesia berhasil menurunkan biaya logistik dari 24 persen produk domestik bruto (PDB) pada 2022 menjadi 14,3 persen pada September 2023. Meski demikian, masih terdapat pekerjaan rumah untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Digitalisasi disebut menjadi tren pada 2024. Lokapasar dinilai dapat mendorong transformasi sektor logistik dengan menyesuaikan kebutuhan spesifik konsumen Indonesia, didukung integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan internet of things (IoT).

Pasar domestik Indonesia diperkirakan sekitar 195 miliar dollar AS atau Rp 3 triliun (kurs Rp 15.592 per dollar AS). Nilai ini disebut ditopang konsumsi domestik, pertumbuhan perdagangan, dan perkembangan infrastruktur.

Dari estimasi tersebut, pasar logistik dibagi menjadi enam kelompok, dengan transportasi pedalaman (inland) mendominasi 34 persen, diikuti pergudangan 24 persen, jasa pengiriman barang 21 persen, transportasi maritim 9 persen, jasa pergudangan 9 persen, serta layanan penambah nilai 4 persen.