Tether dilaporkan telah menunjuk KPMG untuk melakukan audit laporan keuangan penuh pertama atas cadangan yang mendukung stablecoin USDT. Informasi ini diberitakan Financial Times pada Jumat, mengutip sejumlah orang yang mengetahui proses tersebut.
Tether sebelumnya mengumumkan penunjukan auditor tiga hari sebelum laporan itu terbit, namun tidak menyebut nama firma yang dipilih. Perusahaan menggambarkan proses tersebut sebagai “audit perdana terbesar dalam sejarah pasar keuangan.”
Selain KPMG, Tether juga disebut menunjuk PwC untuk membantu mempersiapkan sistem internal, pengendalian, dan pelaporan menjelang audit. Audit yang dimaksud mencakup neraca penuh Tether, termasuk obligasi pemerintah AS, setara kas, aset digital, serta liabilitas yang ditokenisasi. Pemeriksaan juga meliputi pengendalian internal, tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan.
Langkah ini melampaui praktik yang selama ini dilakukan Tether melalui penerbitan pernyataan cadangan secara berkala sejak USDT diluncurkan pada 2014. Pernyataan terbaru dilakukan melalui BDO Italia secara bulanan dan triwulanan, yang pada dasarnya menggambarkan posisi cadangan pada suatu titik waktu. Pernyataan tersebut bukan audit laporan keuangan berdasarkan standar audit yang berlaku umum.
USDT tercatat memiliki kapitalisasi pasar di atas US$184 miliar dan digunakan oleh lebih dari 550 juta orang di seluruh dunia. Stablecoin ini menjadi salah satu sumber likuiditas utama di pasar kripto dan disebut termasuk di antara pemegang surat utang pemerintah AS terbesar di luar pemerintah negara.
CEO Tether Paolo Ardoino, dalam sebuah pernyataan, mengatakan misi perusahaan adalah “membangun kepercayaan melalui tindakan.” Sementara itu CFO Simon McWilliams—yang ditunjuk pada awal 2025 untuk mempersiapkan perusahaan menghadapi pengawasan setingkat firma Big Four—menyatakan auditor dipilih melalui proses kompetitif dan audit akan dilaksanakan.
Tether telah lama menghadapi pertanyaan mengenai cadangannya, setidaknya sejak 2021 ketika Jaksa Agung New York menjatuhkan denda US$41 juta kepada perusahaan karena dinilai menyajikan informasi menyesatkan terkait klaim jaminan penuh dolar AS untuk USDT. Dokumen hukum dari periode tersebut menunjukkan adanya eksposur signifikan terhadap surat utang komersial dan pihak lawan tertentu. Setelah itu, Tether menyatakan telah mengalihkan komposisi cadangannya ke obligasi Treasury AS jangka pendek dan menerbitkan laporan transparansi triwulanan.
Penunjukan KPMG juga dikaitkan dengan upaya Tether memperluas kehadiran di pasar Amerika Serikat. Pada Januari 2026, Tether meluncurkan USAT, stablecoin yang dirancang untuk mematuhi GENIUS Act—kerangka regulasi stablecoin federal yang disahkan menjadi undang-undang pada Juli 2025. Audit penuh oleh firma Big Four secara luas dipandang dapat membantu memenuhi persyaratan verifikasi cadangan dan pelaporan yang diberlakukan GENIUS Act bagi penerbit stablecoin asing yang ingin mendaftar di AS.
Dalam perkembangan terpisah, laporan juga menyebut Tether menunda rencana potensi penggalangan dana ekuitas senilai sekitar US$20 miliar, yang sempat dibahas dengan valuasi mendekati US$500 miliar. Disebutkan bahwa investor dan bankir mendorong agar laporan keuangan yang telah diaudit diserahkan sebelum mereka berpartisipasi.
Hingga kini, belum ada jadwal resmi mengenai penyelesaian maupun publikasi laporan keuangan yang diaudit. Audit menyeluruh yang melibatkan aset kripto dan kewajiban yang ditokenisasi umumnya memakan waktu beberapa bulan, sementara Tether menyatakan proses tersebut sudah berjalan.
Keterlibatan KPMG sebagai auditor dan PwC untuk penguatan kesiapan internal dinilai mencerminkan pendekatan kepatuhan yang berkelanjutan. Namun, apakah hasil audit nantinya akan sejalan dengan klaim yang selama ini disampaikan dalam laporan transparansi triwulanan Tether masih harus ditunggu.