Emas sejak lama menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih, terutama ketika ketidakpastian ekonomi meningkat. Dalam lima tahun terakhir, pergerakan harga emas domestik menunjukkan dinamika yang dipengaruhi berbagai peristiwa global dan kondisi ekonomi di dalam negeri.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Logammulia.com, harga emas per gram mengalami perubahan dari tahun ke tahun, mulai dari periode pandemi hingga fase ketika inflasi dan nilai tukar menjadi perhatian pasar.
Pada 2020, harga emas berada di kisaran Rp 900.000–Rp 1.000.000 per gram. Situasi pandemi COVID-19 membuat emas banyak dipandang sebagai aset safe haven. Memasuki 2021, harga berada sekitar Rp 900.000 per gram seiring pemulihan ekonomi, ketika sebagian investor mulai melirik aset yang dinilai lebih berisiko.
Tren relatif serupa berlanjut pada 2022, dengan harga sekitar Rp 900.000 per gram. Pada periode ini, ketegangan Rusia–Ukraina dan kebijakan suku bunga The Fed menjadi bagian dari faktor yang mewarnai sentimen pasar. Tahun 2023, harga bergerak naik hingga sekitar Rp 1.100.000 per gram, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi resesi global.
Kenaikan semakin terasa pada 2024 ketika harga emas disebut mencapai Rp 1.500.000 per gram. Dalam ringkasan data tersebut, pelemahan rupiah dan inflasi tinggi membuat emas kembali dipertimbangkan sebagai instrumen lindung nilai. Hingga Mei 2025, harga tercatat sekitar Rp 1.900.000 per gram. Meski situasi ekonomi digambarkan lebih stabil, emas tetap dilirik investor.
Dari perbandingan awal 2020 hingga pertengahan 2025, harga emas naik dari sekitar Rp 900.000 per gram menjadi sekitar Rp 1.900.000 per gram, atau meningkat lebih dari 100%. Gambaran ini menunjukkan bahwa dalam rentang jangka panjang, emas dapat memberikan imbal hasil yang menarik, terutama pada periode yang diwarnai krisis, inflasi, dan fluktuasi nilai tukar.
Ringkasan tersebut juga menekankan bahwa emas kerap dipilih saat ketidakpastian meningkat. Sejumlah faktor yang disebut turut memengaruhi pergerakan harga antara lain kondisi krisis, inflasi, serta perubahan nilai tukar.
Bagi masyarakat yang mempertimbangkan emas sebagai investasi, beberapa hal yang disarankan adalah membeli di tempat terpercaya seperti Pegadaian, Logam Mulia, atau platform digital resmi; berfokus pada tujuan jangka panjang minimal 3–5 tahun; melakukan diversifikasi portofolio agar tidak hanya bergantung pada emas; serta memantau harga dan berita ekonomi untuk menentukan waktu beli atau jual secara lebih terukur.
Secara umum, data lima tahun terakhir memperlihatkan emas tetap menjadi salah satu aset yang dinilai kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi, meski pergerakannya tetap dipengaruhi perubahan situasi pasar dan ekonomi.

