JAKARTA — Perubahan lanskap ekonomi digital membentuk dinamika baru dalam perilaku keuangan generasi muda. Dua kelompok yang kini mendominasi aktivitas ekonomi global, yakni Generasi Z (Gen Z) dan milenial, menunjukkan karakteristik berbeda dalam membelanjakan uang, mengelola utang, hingga memanfaatkan instrumen keuangan modern.
Perdebatan mengenai generasi mana yang lebih bijak mengelola keuangan kian relevan seiring meningkatnya daya beli kedua kelompok ini. Gen Z mulai memasuki usia produktif dan memperoleh pendapatan sendiri, sementara milenial berada pada fase kehidupan yang lebih matang, seperti membeli rumah, mobil, atau membangun keluarga. Perbedaan tahap kehidupan tersebut memengaruhi prioritas finansial, cara membelanjakan uang, serta sikap terhadap investasi dan utang.
Di tingkat global, daya beli Gen Z terus meningkat dan menjadikannya kekuatan ekonomi baru yang semakin diperhitungkan. Berbagai perusahaan merancang produk, aplikasi, dan strategi pemasaran yang menargetkan kelompok ini. Sekitar 44 persen Gen Z di dunia disebut melakukan pembelian melalui media sosial, dengan total daya beli mencapai 360 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 6.054 triliun (asumsi kurs Rp 16.819 per dollar AS).
Pengaruh Gen Z terhadap ekonomi digital global juga tercermin dari proyeksi jangka panjang. Total belanja Gen Z secara global diperkirakan mencapai 12 triliun dollar AS atau setara sekitar Rp 201.828 triliun pada 2030. Selain itu, Gen Z diperkirakan akan mewakili sekitar 17 persen dari total belanja ritel global pada dekade berikutnya.
Perkembangan teknologi digital menjadi salah satu faktor utama yang membedakan perilaku keuangan Gen Z dan milenial. Gen Z tumbuh sepenuhnya di era internet dan smartphone, sehingga terbiasa dengan transaksi digital. Platform pembayaran digital, e-commerce, dan media sosial menjadi bagian dari keseharian mereka, tanpa kesenjangan digital seperti generasi sebelumnya.
Kemudahan akses teknologi membuat proses belanja menjadi lebih cepat, mudah, dan dalam banyak kasus mendorong keputusan yang impulsif. Salah satu layanan yang menonjol adalah Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater, yang disebut populer di kalangan Gen Z. Skema ini memungkinkan konsumen membeli barang tanpa membayar penuh di awal, lalu mencicilnya setiap bulan. Fleksibilitas tersebut memudahkan akses ke berbagai produk, termasuk barang premium, meski pendapatan sebagian Gen Z dinilai belum stabil.
Dalam pola konsumsi, penelitian menunjukkan Gen Z cenderung lebih sering melakukan pembelian impulsif dibandingkan milenial. Hampir 90 persen Gen Z dan milenial melakukan pembelian impulsif secara online, namun Gen Z melakukannya lebih sering, terutama untuk barang berharga lebih rendah. Kondisi ini dikaitkan dengan karakteristik pendapatan Gen Z yang masih relatif tidak stabil.

