BERITA TERKINI
Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020–Kuartal I 2025: Sempat Kontraksi, Lalu Stabil di Kisaran 5 Persen

Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020–Kuartal I 2025: Sempat Kontraksi, Lalu Stabil di Kisaran 5 Persen

Dalam lima tahun terakhir, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tekanan global, mulai dari pandemi Covid-19, gejolak harga komoditas, hingga ketidakpastian geopolitik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, setelah sempat terkontraksi pada 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia berangsur pulih dan bergerak relatif stabil di kisaran 5 persen sejak 2021 hingga awal 2025.

Pada 2020, ekonomi Indonesia terkontraksi 2,07 persen, menjadi kontraksi pertama dalam dua dekade terakhir. Tekanan pandemi memukul hampir seluruh sektor, terutama melalui penurunan konsumsi rumah tangga dan pembatasan sosial yang berdampak pada transportasi, perdagangan, serta pariwisata. Kepala BPS saat itu, Suhariyanto, menyebut kuartal IV-2020 masih mencatat kontraksi 2,19 persen (year on year/yoy), meski perlambatan mulai mereda dibanding kuartal sebelumnya.

Memasuki 2021, pemulihan mulai terlihat. Sepanjang tahun itu, ekonomi tumbuh 3,69 persen, didorong membaiknya mobilitas masyarakat, kinerja ekspor-impor, serta peningkatan investasi. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen (yoy), seiring rendahnya basis tahun sebelumnya dan percepatan aktivitas ekonomi. Kepala BPS Margo Yuwono menekankan peran peningkatan mobilitas dalam mendorong pemulihan sektor transportasi dan konsumsi rumah tangga. Pada periode ini, investasi asing dan domestik juga mencatat tren positif, masing-masing tumbuh 10,1 persen dan 15,2 persen.

Pada 2022, perekonomian Indonesia tumbuh 5,31 persen (yoy), kembali ke kisaran sebelum pandemi dan menjadi pertumbuhan tahunan tertinggi sejak 2013. Kinerja kuartalan dinilai solid, dengan pertumbuhan kuartal III mencapai 5,72 persen, meski kuartal IV melambat ke 5,01 persen. Surplus neraca perdagangan sebesar 54,53 miliar dollar AS menjadi salah satu penopang, di tengah berkembangnya sektor manufaktur, perdagangan, dan pertambangan serta daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

Di 2023, ekonomi tumbuh 5,05 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibanding 2022 akibat tekanan perlambatan global dan penurunan harga komoditas. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama dengan kontribusi lebih dari 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Stabilitas harga juga terjaga, tercermin dari inflasi akhir tahun yang tercatat 2,61 persen. Namun, kontribusi perdagangan internasional mulai menurun sejalan dengan perlambatan aktivitas global.

Pada 2024, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,03 persen (yoy), sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen. Secara kuartalan, pertumbuhan cenderung stabil, meski kuartal III melambat menjadi 4,95 persen. Pemerintah mengidentifikasi faktor eksternal sebagai penyebab utama, termasuk penurunan pertumbuhan negara mitra dagang utama seperti China dan sejumlah negara di Eropa. Meski begitu, konsumsi rumah tangga tetap tumbuh stabil, sementara pertanian, industri pengolahan, dan konstruksi mencatat pertumbuhan positif.

Memasuki kuartal I-2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 4,87 persen (yoy), melambat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu faktor penekan adalah kontraksi konsumsi pemerintah sebesar -1,38 persen, yang dikaitkan dengan efek basis tinggi pada kuartal I-2024 akibat belanja Pemilu. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 4,89 persen, ditopang momentum Ramadan dan Idul Fitri. Ekspor juga mencatat pertumbuhan tinggi, terutama dari pariwisata dan komoditas nonmigas. Dari sisi lapangan usaha, pertanian tumbuh 10,52 persen berkat panen raya, sementara investasi masih lemah dengan pertumbuhan 2,12 persen.

Secara keseluruhan, data lima tahun terakhir menunjukkan pemulihan yang konsisten sejak titik terendah pada 2020, dengan pertumbuhan yang relatif stabil di sekitar 5 persen sejak 2021. Meski demikian, tantangan tetap ada, termasuk ketergantungan pada konsumsi rumah tangga dan ekspor, serta dampak perlambatan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama.