JAKARTA — Sektor perumahan terus beradaptasi dengan mengedepankan tren hunian pasca-pandemi. Di tengah berlanjutnya pandemi Covid-19, pasar rumah tapak serta pergudangan diperkirakan tetap bertahan dengan permintaan yang dinilai masih cukup sehat.
Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan pandemi tidak menyurutkan penjualan perumahan tapak. Para pengembang disebut masih aktif mengembangkan proyek, terutama di kawasan dengan lahan luas atau township berskala besar.
Konsep rumah pintar dan ventilasi lebih baik
Sejumlah proyek perumahan mulai menonjolkan konsep rumah pintar serta ventilasi yang lebih baik. Menurut Yunus, fitur-fitur tersebut dikemas sebagai nilai tambah untuk menarik pembeli di masa pandemi.
Yunus menjelaskan kisaran harga produk dengan fitur tersebut bervariasi karena dapat diterapkan pada berbagai tipe rumah, menyesuaikan target pasar masing-masing. Meski begitu, ia menekankan bahwa pertimbangan utama pembeli masih bertumpu pada keterjangkauan harga, lokasi dan aksesibilitas, serta reputasi pengembang.
Insentif pajak dinilai mendorong penjualan
Yunus menilai permintaan rumah tapak dan pergudangan masih terjaga, terutama pada semester I-2021 ketika insentif fiskal dan pajak perumahan dinilai menstimulus penjualan. Pembeli memanfaatkan insentif tersebut untuk memperoleh harga yang lebih kompetitif.
Pemerintah memperpanjang insentif perpajakan berupa pajak pertambahan nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah hingga akhir 2021. Sebelumnya, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21 Tahun 2021, PPN yang ditanggung pemerintah berlaku sampai Agustus 2021.
- Pembebasan PPN berlaku untuk rumah tapak maupun rumah susun dengan harga hingga Rp 2 miliar sebagai bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
- Pengurangan PPN sebesar 50% berlaku untuk rumah dengan harga Rp 2 miliar–Rp 5 miliar, dengan ketentuan maksimal satu unit per orang dan tidak boleh dijual kembali dalam jangka waktu satu tahun.
Yunus juga menyebut insentif dan situasi pembatasan kegiatan masyarakat berdampak positif terhadap pasar perumahan karena pasar didominasi konsumen pengguna akhir (end user) yang tetap aktif membeli rumah sesuai kebutuhan.
Segmen ready stock di bawah Rp 600 juta menguat
Menurut Yunus, dampak kebijakan pembatasan kegiatan terlihat pada rumah siap huni (ready stock). Properti dengan harga di bawah Rp 600 juta per unit mengalami peningkatan penjualan seiring banyaknya pasokan di segmen tersebut. Ia menilai keterjangkauan harga masih menjadi kunci penyerapan oleh konsumen penghuni langsung.
Yunus memperkirakan dampak pembatasan darurat terhadap konstruksi dan pasar perumahan baru akan lebih terlihat mulai triwulan III-2021. Namun, ia berharap insentif perumahan dapat menjaga permintaan tetap stabil, terutama bagi pengembang yang memiliki stok.
Pola konsumen bergeser ke pencarian daring
Secara terpisah, Country Manager Rumah.com Marine Novita mengatakan pandemi mendorong perubahan cara masyarakat mengonsumsi dan mencari informasi, termasuk di sektor properti. Konsumen disebut lebih tertarik mencari informasi properti secara daring dari rumah.
Marine menyebut pencarian melalui Rumah.com tumbuh dua kali lipat pada semester I-2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pengembang pun menyesuaikan perilaku tersebut dengan penyelenggaraan pameran properti virtual bertajuk “Rumah.com & REI Property Expo” yang akan digelar tahun ini bekerja sama dengan Real Estat Indonesia (REI).
Dalam konteks perpanjangan pembatasan, Marine menilai sektor properti perlu berperan dalam pemulihan ekonomi nasional. Ia menyatakan industri properti memiliki dampak ganda terhadap 174 sektor lain dan 350 jenis industri terkait skala kecil.
Wakil Ketua Umum DPP REI Ikang Fawzi mengatakan kemitraan REI dengan Rumah.com diharapkan membantu pengembang menyesuaikan cara pencari rumah menemukan informasi penawaran. Ia juga menilai kolaborasi tersebut hadir pada momentum perpanjangan pembebasan PPN properti.

