BERITA TERKINI
Viral Saran Tunda Beli Rumah hingga 2027 karena Harga Disebut Turun, Pakar Ingatkan Jangan Terburu-buru

Viral Saran Tunda Beli Rumah hingga 2027 karena Harga Disebut Turun, Pakar Ingatkan Jangan Terburu-buru

Sebuah unggahan di media sosial X yang membahas waktu terbaik membeli rumah di tengah kondisi ekonomi saat ini menjadi perbincangan warganet. Dalam unggahan tersebut, seorang pengguna mengaku berencana membeli rumah dengan skema KPR dan menanyakan apakah langkah itu bijak, mengingat penghasilannya sekitar Rp 6,5 juta per bulan di luar bonus serta tambahan pemasukan dari pekerjaan lepas di akhir pekan.

Unggahan itu kemudian ditanggapi pengguna lain yang menyarankan agar pembelian properti ditunda. Ia merujuk pada sebuah gambar “grafik siklus” yang menampilkan ilustrasi harga properti berada di titik tertinggi pada 2026, lalu menurun pada 2027 hingga 2030. Saran yang muncul: pembelian properti disebut lebih baik dilakukan pada periode 2027–2030.

Hingga Kamis (27/3/2025), unggahan terkait grafik tersebut telah ditayangkan 53.800 kali dan disukai lebih dari 1.000 kali. Namun, benarkah harga rumah akan memuncak pada 2026 dan turun mulai 2027?

Pakar: Grafik perlu sumber yang jelas

Core Founder Green Building Council Indonesia, Ar. Ariko Andikabina, mengatakan belum pernah melihat “grafik siklus 18 tahun real estate” seperti yang beredar di media sosial tersebut. Ia menilai, pihak yang mengunggah grafik seharusnya mencantumkan sumber yang jelas—misalnya berasal dari jurnal penelitian—agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ariko juga mengingatkan masyarakat agar tidak buru-buru menyimpulkan bahwa 2027 pasti menjadi waktu terbaik membeli properti hanya berdasarkan narasi di media sosial. Menurut dia, keputusan pembelian properti sebaiknya mempertimbangkan kondisi sosial, politik, dan ekonomi.

Meski demikian, Ariko mengakui bahwa ketika permintaan (demand) menurun, seharusnya ada koreksi harga. Dalam situasi tersebut, harga yang ditawarkan dapat menjadi lebih kompetitif dan bisa menjadi salah satu pertimbangan calon pembeli.

Perencana keuangan: Siklus 18 tahun beredar, tetapi asalnya tidak jelas

Perencana Keuangan Bersertifikat (Certified Financial Planner/CFP) Budi Raharjo dari OneShildt menyampaikan hal serupa. Ia mengaku pernah melihat grafik siklus 18 tahun perkembangan real estat di media sosial, tetapi sumber aslinya tidak jelas.

Budi menilai, tanpa mengetahui asal data—apakah menggambarkan pasar Indonesia, Amerika Serikat, atau negara lain—ia belum dapat memberikan komentar lebih jauh tentang ketepatan grafik tersebut.

Waktu terbaik membeli rumah dinilai bergantung kesiapan

Ariko menekankan bahwa waktu yang tepat membeli properti pada dasarnya bergantung pada kesiapan masing-masing calon pembeli. Ia menyebut sejumlah aspek yang dapat menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan membeli rumah, termasuk jika menggunakan skema kredit.

  • Lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja.
  • Ketersediaan fasilitas untuk pengembangan masyarakat, seperti sekolah, pasar, fasilitas kesehatan, dan fasilitas sosial.
  • Kohesi sosial di lingkungan, yang menurutnya turut tercermin dari kualitas lokasi.
  • Kualitas produk properti, baik yang disediakan pengembang maupun hasil swadaya.
  • Fasilitas kredit bila membeli dengan KPR, termasuk memperhatikan suku bunga yang ditawarkan, apakah tetap (fixed) atau mengambang (floating).

Pasar lesu, tetapi kebutuhan rumah masih besar

Ariko juga menyinggung kondisi pasar properti di Indonesia yang disebutnya mengalami kelesuan selama beberapa tahun. Ia menyatakan minat masyarakat untuk berinvestasi di properti turun cukup signifikan. Dampaknya, pembangunan rumah susun—termasuk apartemen kelas menengah—disebut menurun dari sisi jumlah.

Di sisi lain, Ariko menyebut Indonesia masih menghadapi kekurangan pasokan (backlog) perumahan sekitar 15 juta unit. Artinya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan rumah.

Namun, ia menilai penyediaan perumahan belum sepenuhnya mengarah pada pihak-pihak yang membutuhkan hunian, melainkan cenderung ditujukan kepada kelompok yang memanfaatkan properti sebagai instrumen investasi.