BERITA TERKINI
Amartha: Peluang Pembiayaan Produktif untuk UMKM, Terutama Ultra Mikro, Masih Terbuka Lebar

Amartha: Peluang Pembiayaan Produktif untuk UMKM, Terutama Ultra Mikro, Masih Terbuka Lebar

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menilai prospek penyaluran pembiayaan ke sektor produktif, khususnya untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), masih sangat besar. Penilaian ini didorong oleh fakta bahwa belum seluruh UMKM, termasuk segmen ultra mikro, tersentuh akses pembiayaan.

Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, mengatakan potensi tersebut terlihat dari besarnya jumlah UMKM di Indonesia dibandingkan dengan jangkauan pembiayaan yang sudah dilakukan perusahaan. Dari perkiraan sekitar 30 juta UMKM, Amartha saat ini menyasar segmen ultra mikro dan baru memiliki sekitar 3 juta nasabah.

“Kami hitung ada sekitar 30 juta UMKM. Kami itu menyasar ultra mikro dan sekarang kami baru punya 3 juta, berarti potensinya masih sangat-sangat besar. Jangkauan kami itu belum ke semua, sehingga masih banyak sekali sebenarnya ibu-ibu yang belum terjangkau pemodalan produktif,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).

Julie menjelaskan, permintaan pembiayaan produktif masih tinggi karena dana tersebut umumnya digunakan untuk menopang aktivitas usaha yang berkaitan langsung dengan kebutuhan harian pelaku UMKM. Menurutnya, bagi banyak pelaku usaha di desa, berdagang atau bertani menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jadi, kalau misal tidak berdagang atau tidak berkebun, mereka tidak memenuhi kebutuhannya. Terlebih, orang-orang di desa itu memang aktivitasnya berdagang, beda dengan orang di kota,” tuturnya.

Untuk memperluas penetrasi pembiayaan hingga ke daerah, Amartha mengandalkan dukungan business partner atau tim lapangan. Julie menyebut perusahaan saat ini memiliki sekitar 10 ribu tenaga lapangan yang bertugas membentuk kelompok ibu-ibu yang saling mengenal dan memiliki usaha.

Selain membantu pembentukan kelompok, tenaga lapangan juga melakukan penilaian kelayakan usaha, melakukan pertemuan mingguan, serta membangun kedekatan dengan pelaku usaha. Julie mengatakan, peran ini juga penting dalam mitigasi risiko kredit macet.

“Jadi, memang relationship antara business partner dengan ibu-ibunya itu lumayan cukup dekat,” ucapnya.

Julie menambahkan, segmen ultra mikro umumnya tidak dapat disasar bank karena dianggap unbankable. Di sisi lain, ia menyebut ada perbankan yang menempatkan dana di Amartha untuk kemudian disalurkan kepada pelaku usaha ultra mikro, sehingga pendanaan dari bank turut membantu pertumbuhan segmen tersebut.

Terkait besaran pinjaman, Julie menyampaikan rata-rata UMKM yang meminjam di Amartha berada pada kisaran Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. Namun, penyaluran dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kondisi usaha. Pada tahap awal, peminjam biasanya memperoleh pembiayaan dengan nominal paling rendah.

“Jadi, biasanya kalau yang pelaku usaha awal itu tak diberikan besar. Baru yang sudah 2 hingga 5 tahun bisa mencapai pinjaman Rp 15 juta. Kami juga lihat histori pembayarannya dan bisnisnya berkembang atau tidak,” kata Julie.

Hingga akhir 2025, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp 37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa. Dari sisi sektor usaha, sebanyak 53% peminjam berasal dari perdagangan, 22% pertanian, 9% peternakan, 6% jasa, serta 7% industri rumah tangga dan sektor lainnya.