Jakarta — Praktisi hukum senior Andre Rahadian menyebut data pribadi merupakan aset paling mahal bagi perusahaan financial technology (fintech). Menurutnya, nilai tinggi itu muncul karena data seperti nama, nomor identitas, pola transaksi, lokasi, hingga kebiasaan belanja dapat membentuk profil risiko dan perilaku pengguna.
Andre menjelaskan, bagi perusahaan fintech, data tersebut menjadi dasar penilaian kredit, pencegahan penipuan (fraud), personalisasi produk, hingga pengambilan keputusan bisnis secara real time. Ia menilai, nilai data bahkan bisa berkali lipat lebih mahal dibanding uang itu sendiri.
Karena bernilai tinggi, Andre menambahkan, data pribadi wajar menjadi target utama kejahatan siber. Ia merujuk laporan IBM Cost of a Data Breach 2023 yang mencatat rata-rata kerugian global akibat kebocoran data mencapai USD 4,45 juta per insiden, dengan sektor keuangan termasuk yang paling terdampak.
Ia menekankan, dampak kebocoran data tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga erosi kepercayaan. Menurut Andre, kepercayaan merupakan aset terpenting dalam industri berbasis teknologi dan layanan keuangan.
Andre juga menilai isu kebocoran data nyata terjadi di Indonesia. Ia menyinggung kasus pada 2023 ketika publik digegerkan oleh kebocoran lebih dari 1,3 miliar data pribadi warga Indonesia yang disebut tersebar di forum peretasan online, termasuk data KTP, nomor telepon, hingga alamat rumah.
Menurutnya, kasus tersebut menunjukkan sistem proteksi data masih memiliki celah besar dan berpotensi dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan, persoalan data pribadi di fintech bukan semata isu teknologi, melainkan juga menyangkut perlindungan konsumen dan keberlanjutan industri.
Andre menyebut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) menegaskan pengelolaan data harus dilakukan secara bertanggung jawab. Ia menilai, di tengah kemudahan layanan digital, kesadaran pengguna dan tata kelola yang kuat menjadi kunci agar data tidak berubah dari aset strategis menjadi sumber risiko yang merugikan.

