BERITA TERKINI
APINDO Kaltara Khawatir Kenaikan BBM Industri Dongkrak Biaya Usaha dan Picu PHK

APINDO Kaltara Khawatir Kenaikan BBM Industri Dongkrak Biaya Usaha dan Picu PHK

TARAKAN — Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai beredar di sejumlah daerah memunculkan kekhawatiran pelaku usaha di Kalimantan Utara (Kaltara). Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kaltara menilai kenaikan BBM, khususnya untuk sektor industri, berpotensi menekan dunia usaha karena biaya operasional meningkat sementara harga jual produk cenderung stagnan.

Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) APINDO Kaltara, Peter Setiawan, mengatakan dampak kenaikan BBM industri sudah mulai terasa. Ia menyebut, meski belum ada informasi kenaikan BBM secara umum, BBM untuk industri mengalami kenaikan yang dinilai memberi pengaruh besar terhadap kegiatan usaha.

Menurut Peter, salah satu dampak yang paling cepat terlihat adalah peningkatan ongkos logistik, terutama untuk pengiriman hasil produksi. Ia mencontohkan biaya kontainer pendingin untuk pengiriman komoditas perikanan seperti udang ke Surabaya yang mengalami kenaikan.

“Kontainer sudah naik sekarang. Dari biasanya Rp37 juta naik jadi Rp39,5 juta. Itu kontainer pendingin untuk muat udang,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (18/4/2026).

Kondisi tersebut, lanjut Peter, semakin menekan pelaku usaha, terutama pada sektor yang tidak memiliki fleksibilitas untuk menaikkan harga jual. Ia menyoroti sektor perkayuan sebagai salah satu yang paling terdampak karena harga jual kayu relatif tidak mengalami kenaikan, sementara biaya operasional terus meningkat.

“Di sektor perkayuan, harga kayu tidak mengalami kenaikan, sementara biaya operasional sudah meningkat. Kini ditambah lagi dengan kenaikan harga minyak, dampaknya sangat besar dan saya khawatir bisa berujung pada PHK,” kata Peter.

Ia menilai, ketika biaya produksi naik tetapi harga jual tidak ikut bergerak, perusahaan dapat kesulitan bertahan. Dalam situasi seperti itu, efisiensi dinilai menjadi langkah yang hampir tidak terhindarkan, dengan risiko penurunan kapasitas produksi hingga potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kalau perusahaan tidak bisa jalan dengan harga yang dikerjakan enggak naik-naik, cuma bahan bakunya naik semua, itu bahaya sekali,” tegasnya.

APINDO Kaltara yang menaungi beragam sektor usaha—mulai dari pertambangan, perkayuan, perikanan hingga cold storage—juga mencatat dampak kenaikan biaya tidak dirasakan merata di semua bidang. Namun, sektor-sektor yang harga jual produknya tidak ikut naik disebut berada dalam tekanan paling besar.