BERITA TERKINI
Awal Maret 2026, Fundamental Makro Indonesia Dinilai Masih Konstruktif di Tengah Volatilitas Global

Awal Maret 2026, Fundamental Makro Indonesia Dinilai Masih Konstruktif di Tengah Volatilitas Global

Kondisi makroekonomi Indonesia pada pekan pertama Maret 2026 dinilai masih konstruktif, ditopang konsumsi yang tetap kuat dan aktivitas manufaktur yang membaik. Namun, pasar keuangan disebut semakin rentan terhadap gejolak eksternal, seiring meningkatnya sensitivitas investor terhadap perkembangan global.

Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal, menyampaikan momentum pertumbuhan domestik masih didukung konsumsi yang resilien, perbaikan aktivitas manufaktur, serta belanja musiman menjelang Lebaran. Di saat yang sama, aktivitas investasi mulai menunjukkan tanda pemulihan bertahap, tercermin dari meningkatnya impor barang modal dan input antara.

“Indonesia memasuki awal Maret 2026 dengan fundamental makroekonomi yang secara umum masih konstruktif, namun semakin terekspos terhadap volatilitas eksternal,” ujar Fithra dalam risetnya, Senin (9/3/2026).

Menurut Fithra, pasar keuangan belakangan cenderung lebih responsif terhadap dinamika global ketimbang kinerja makro domestik. Ia menilai interaksi antara pergerakan yield global, ketegangan geopolitik, serta narasi terkait peringkat kredit sovereign menjadi pendorong utama sentimen pasar.

Ia juga menyoroti penurunan cadangan devisa Indonesia sebagai sinyal bahwa pendekatan pengelolaan kebijakan menjadi lebih defensif. Bank Indonesia disebut terus memanfaatkan bantalan eksternal untuk meredam volatilitas nilai tukar dan mencegah instabilitas mata uang berdampak ke inflasi maupun pasar keuangan.

Dalam konteks itu, narasi makro Indonesia dinilai bergeser secara bertahap dari fase pemulihan siklikal menuju fase pengelolaan kredibilitas kebijakan. Fithra menilai disiplin fiskal, reformasi institusional, dan konsistensi kebijakan menjadi semakin penting untuk menjaga kepercayaan investor.

Di sisi global, Fithra menyebut salah satu perkembangan paling signifikan pada pekan sebelumnya adalah eskalasi konflik Iran–Israel–AS yang memperkenalkan kanal risiko geopolitik baru ke pasar. Konflik disebut dimulai dengan serangan bersama AS–Israel terhadap infrastruktur militer Iran dalam Operation Epic Fury, disusul serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk serta ancaman penutupan Selat Hormuz yang membawa sekitar 20% pasokan minyak global.

Ia menilai kanal transmisi makroekonomi dari konflik tersebut terutama melalui harga minyak, sentimen risiko global, dan arus modal. Dalam situasi demikian, volatilitas pasar jangka pendek diperkirakan tetap tinggi.

Meski begitu, Fithra memproyeksikan fundamental makro Indonesia secara struktural masih resilien, didukung permintaan domestik yang kuat, bantalan eksternal yang solid, serta diferensial yield yang relatif menarik. Namun, ia menilai investor masih akan menghadapi kombinasi ketidakpastian yield global, risiko geopolitik, dan narasi peringkat kredit sovereign.

“Adapun tiga variabel utama yang akan menentukan arah pasar Indonesia dalam beberapa bulan mendatang adalah stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, arah global yields, dan sinyal kredibilitas kebijakan,” jelas Fithra.

Cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 tercatat turun menjadi US$ 151,9 miliar, sedikit di bawah proyeksi Samuel Sekuritas Indonesia sebesar US$ 153 miliar. Penurunan tersebut dikaitkan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah yang terjadwal serta intervensi berkelanjutan Bank Indonesia di pasar valuta asing. Fithra menilai penurunan ini merupakan penggunaan bantalan secara taktis dan tidak mencerminkan melemahnya fundamental eksternal.

Dari sisi sektor riil, PMI Manufaktur Indonesia naik menjadi 53,8 pada Februari 2026. Angka ini menandai ekspansi tercepat sejak Maret 2024 sekaligus mencatat bulan ketujuh berturut-turut pertumbuhan. Penguatan itu dikaitkan dengan permintaan domestik yang lebih kuat, peningkatan pesanan baru, dan membaiknya kondisi ketenagakerjaan di sektor manufaktur.

Meski demikian, gangguan rantai pasok akibat banjir dan keterlambatan logistik disebut masih memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya input. Secara keseluruhan, data PMI dinilai menunjukkan momentum sektor riil Indonesia tetap resilien di tengah meningkatnya volatilitas eksternal.