BERITA TERKINI
BEI Nilai Pelemahan IHSG Masih Lebih Ringan Dibanding Gejolak April 2025

BEI Nilai Pelemahan IHSG Masih Lebih Ringan Dibanding Gejolak April 2025

Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai kondisi pasar saat ini masih lebih baik dibandingkan gejolak yang sempat terjadi pada April 2025, ketika pasar terdampak kebijakan tarif yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Saat itu, itu juga mengakibatkan penurunan pasar yang sangat tajam. Dan pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini,” kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Senin (9/3/2026).

Jeffrey menegaskan BEI telah menyiapkan sistem infrastruktur serta perangkat regulasi untuk menghadapi dinamika pasar yang berlangsung. “Jadi oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” ujarnya.

Sebelumnya, IHSG bergerak di zona merah pada perdagangan saham Senin, 9 Maret 2026. Tekanan terjadi saat seluruh sektor saham memerah, diikuti pelemahan rupiah yang menembus 16.940 terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data RTI, IHSG ditutup turun 3,27% ke posisi 7.337,36. Indeks LQ45 juga turun 3,28% ke posisi 750,57. Seluruh indeks saham acuan tercatat melemah.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen geopolitik dan potensi inflasi. Ia menyoroti dampak konflik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz yang disebut membuat produsen minyak di kawasan tersebut mengurangi produksi karena keterbatasan tempat penyimpanan, seiring hambatan pengiriman ke pelanggan.