Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan arus keluar dana investor asing (net foreign sell) pada Maret 2026 tidak akan terlalu besar. Proyeksi ini ditopang tingkat turnover investor asing yang dinilai masih terjaga di kisaran 30 persen.
Analis Unit Kajian dan Analisis Ekonomi Divisi Riset BEI, Anita Kezia, menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik sehingga dapat membantu menahan tekanan arus keluar modal asing dari pasar saham.
Selain partisipasi investor asing yang tetap tinggi, stabilitas pasar juga disebut ditopang kinerja ekspor yang didorong komoditas. Dari sisi domestik, inflasi dinilai masih terkendali. Namun, Anita menyinggung adanya penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan Fitch yang dipandang sebagai peringatan bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan.
Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu bersikap tegas dalam menjaga kepercayaan investor agar arus modal asing yang masuk ke pasar modal Indonesia tetap stabil.
Meski demikian, BEI mencatat secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/ytd) 2026, pasar saham Indonesia masih mengalami net foreign sell sebesar Rp9,7 triliun. Tekanan jual terbesar disebut terjadi pada akhir Januari, terutama setelah pengumuman terkait MSCI.
Hingga Maret 2026, total turnover investor di pasar saham tercatat mencapai Rp22,9 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi investor asing sebesar 32,1 persen, sementara investor domestik 67,9 persen.
Arus dana asing sempat kembali masuk ke pasar saham domestik, tercermin dari net foreign buy Rp905,27 miliar pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026. Pembelian tersebut disebut didominasi saham sektor energi dan sebagian saham perbankan.
Namun, secara ytd investor asing masih tercatat membukukan net sell sebesar Rp22,15 triliun sejak awal tahun.

