Bursa saham Asia diperkirakan menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (2/4), mengikuti reli di Wall Street dan penurunan harga minyak dunia yang dinilai mencerminkan meningkatnya optimisme pasar bahwa perang di Iran berpotensi segera berakhir.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham Jepang, Hong Kong, Australia, dan Korea Selatan diperdagangkan lebih tinggi. Kondisi tersebut mengindikasikan peluang penguatan yang lebih luas di kawasan Asia.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 ditutup naik 0,7% pada Rabu, sementara Nasdaq 100 menguat 1,2%. Kenaikan itu membawa kedua indeks tersebut ke level tertinggi dalam sepekan.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 1% pada awal perdagangan Asia, menjelang pidato Donald Trump. Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,2% dan harga emas melonjak 1,9%.
Di pasar obligasi, pergerakan surat utang pemerintah AS berlangsung fluktuatif. Imbal hasil (yield) Treasury tenor 10 tahun ditutup stabil, tenor 30 tahun menguat, sedangkan tenor 2 tahun sedikit menurun setelah rilis data pasar tenaga kerja dan penjualan ritel AS yang solid.
Secara umum, pergerakan aset berisiko (risk-on) ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan di Timur Tengah, seiring tumbuhnya keyakinan bahwa Trump mungkin akan segera membatasi aksi militer AS terhadap Iran.