BERITA TERKINI
BI Nilai Ekonomi Kuartal II 2025 Tumbuh 5,12% Berkat Permintaan Domestik yang Kuat

BI Nilai Ekonomi Kuartal II 2025 Tumbuh 5,12% Berkat Permintaan Domestik yang Kuat

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 dinilai lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen secara tahunan pada periode tersebut.

Destry menilai pembeda utama Indonesia dengan negara lain terletak pada kuatnya permintaan domestik. Menurut dia, hal itu tercermin dari konsumsi masyarakat serta pertumbuhan ekonomi domestik yang mendorong kebutuhan investasi lebih besar. Pernyataan itu disampaikan Destry dalam acara Karya Kreatif Indonesia di Jakarta Convention Center, Kamis, 7 Agustus 2025.

Ia mengatakan BI bersama kementerian dan lembaga lain akan terus mendorong peningkatan potensi ekonomi, salah satunya melalui sektor pariwisata. Destry menyebut penguatan pariwisata menjadi tantangan karena kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia masih relatif kecil, sekitar 4 persen.

Meski demikian, Destry menilai sektor tersebut memiliki dampak besar pada penyerapan tenaga kerja. Ia menyebut pariwisata dapat menyerap hingga 25 juta orang karena efek turunan (trickle down effect) yang luas. Karena itu, menurutnya, pariwisata perlu ditopang oleh sektor UMKM, makanan dan minuman, perdagangan, hingga perhotelan.

Data BPS menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 22,32 persen secara tahunan pada kuartal II 2025. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 13,96 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud mengatakan meningkatnya mobilitas masyarakat turut memicu pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tercatat sebesar 4,97 persen. Konsumsi rumah tangga disebut menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang mencapai 5,12 persen.

Edy menjelaskan, kenaikan konsumsi juga dipengaruhi momentum hari libur dan hari besar keagamaan yang mendorong peningkatan kebutuhan bahan makanan dan makanan jadi, seiring aktivitas pariwisata selama periode libur. Hal itu disampaikan Edy dalam konferensi pers pada Selasa, 5 Agustus 2025.

Namun, data pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS turut memunculkan pertanyaan dari sejumlah pihak, salah satunya Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Peneliti Ekonomi Makro dan Finansial Indef Abdul Manap Pulungan menilai penghitungan BPS tidak selaras dengan kondisi perekonomian saat ini.

Abdul menyoroti lima komponen pendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran, yakni konsumsi rumah tangga, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), konsumsi pemerintah, investasi langsung, serta ekspor-impor. Menurutnya, dari kelima komponen tersebut tidak ada yang bergerak signifikan. Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi publik bertajuk Tanggapan Atas Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025 yang digelar Indef pada Rabu, 6 Agustus 2025.