Bank Indonesia (BI) menilai ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menimbulkan dampak signifikan terhadap kondisi makroekonomi Indonesia. BI menyebut stabilitas eksternal dan pergerakan nilai tukar rupiah masih berada dalam kondisi yang aman.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya tidak melihat pengaruh besar dari meningkatnya risiko geopolitik global terhadap perekonomian domestik. Ia menyampaikan bahwa sejauh ini dampaknya tidak terlihat signifikan pada kondisi makro maupun terhadap stabilitas eksternal dan rupiah.
Menurut Perry, nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamental dan mekanisme pasar, serta dipengaruhi oleh kredibilitas kebijakan yang ditempuh. Ia juga menambahkan premi risiko credit default swap (CDS) tetap terjaga rendah di level 61,3 basis poin dan menunjukkan kecenderungan menurun.
Perry memperkirakan, bila ketegangan geopolitik sempat memengaruhi pasar keuangan, dampaknya bersifat sementara. Ia menilai sejumlah risiko politik yang muncul cenderung berjangka pendek dan tidak mengubah fundamental secara signifikan.
Meski demikian, BI menyatakan tetap mencermati perkembangan geopolitik dan perekonomian global. Salah satu perhatian BI adalah kelanjutan negosiasi perdagangan fase pertama antara AS dan Tiongkok yang disebut akan segera ditandatangani.
Perry menilai perkembangan positif hubungan dagang AS dan Tiongkok dapat menjadi sentimen baik bagi perekonomian global. Ia menyebut kesepakatan tersebut turut membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Dalam pandangannya, hal itu dapat memperkuat persepsi bahwa ekonomi dunia pada tahun ini tumbuh sekitar 3 persen hingga 3,1 persen, meningkat dari 2,9 persen.

