Bill Gates, yang disebut sebagai orang terkaya nomor dua di dunia dengan kekayaan sekitar 108,8 miliar dolar AS, menilai sistem ekonomi global masih menyisakan ketidakadilan. Ia mengatakan kekayaan ekstrem yang dimilikinya justru menjadi salah satu bukti bahwa sistem tersebut tidak berjalan adil.
Dalam pernyataannya di blog gatesnotes.com, Gates menyoroti melebaranya jarak antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah di Amerika Serikat dibandingkan 50 tahun lalu. Ia juga menyinggung data indeks Gini dari Biro Sensus Amerika Serikat yang menunjukkan kesenjangan pendapatan di negara itu berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Gates mengakui bahwa sebagian orang dapat berakhir “dengan mudah” dan memperoleh hasil yang baik. Ia menilai dirinya mendapatkan penghasilan secara tidak proporsional dibandingkan kerja yang dilakukan, sementara banyak orang lain bekerja sama kerasnya hanya untuk bertahan hidup.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gates mendorong pemerintah Amerika Serikat menaikkan pajak bagi orang kaya. Ia menyatakan mendukung sistem perpajakan di mana mereka yang berpenghasilan lebih tinggi membayar pajak lebih besar, termasuk dirinya dan sang istri, Melinda.
Secara lebih spesifik, Gates mengusulkan pajak capital gain atau pajak atas keuntungan dari investasi dinaikkan. Menurutnya, orang-orang terkaya tidak memperoleh kekayaan hanya dari pekerjaan bergaji, sehingga beban pajak seharusnya lebih banyak dialihkan ke modal (capital) daripada tenaga kerja.
“Saya tidak melihat alasan untuk mendukung kekayaan daripada bekerja seperti yang kita lakukan hari ini,” tulis Gates. Ia menambahkan, kondisi tersebut merupakan bukti paling jelas baginya bahwa sistem yang ada saat ini tidak adil.
Pernyataan serupa pernah disampaikan miliarder sekaligus pengusaha teknologi Mark Cuban. Ia menekankan perbedaan antara investor dan pekerja bergaji terletak pada kesenjangan pendapatan, seraya menyebut bahwa orang yang hanya dibayar berdasarkan jam kerja akan selalu tertinggal.

