Amerika Serikat disebut menerapkan strategi blokade maritim untuk menekan Iran secara ekonomi dan mendorong negosiasi ulang dengan Teheran. Kebijakan ini menandai pergeseran pendekatan dari konfrontasi fisik menuju pengepungan ekonomi melalui pembatasan terhadap pelabuhan serta kapal-kapal Iran.
Menurut laporan yang dikutip dari CNN, Washington berharap kehancuran finansial yang sistematis dapat menjadi daya tawar baru setelah serangkaian serangan udara dinilai belum cukup efektif menundukkan lawan. Tujuan utamanya adalah memutus jalur perdagangan Iran agar negara itu bersedia memenuhi persyaratan yang diajukan AS guna mengakhiri perselisihan.
Langkah ini juga dipandang sebagai respons atas upaya Iran sebelumnya yang disebut mencoba mengganggu ekonomi dunia dengan menutup sebagian Selat Hormuz. Namun, strategi blokade AS dinilai membawa risiko besar karena dapat memicu kenaikan harga energi global dan memperburuk hubungan diplomatik internasional.
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik Iran digambarkan berada dalam tekanan berat, mengingat sanksi yang telah lama diterapkan disebut telah melemahkan fundamental ekonomi negara tersebut. Sejumlah risiko yang disebut mengemuka mencakup potensi krisis pangan, lonjakan inflasi, hingga ancaman kolapsnya sektor perbankan dalam waktu singkat.
Ketergantungan Iran pada Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama dalam kalkulasi strategi blokade. Data yang disampaikan dalam laporan menyebut sekitar 90 persen dari total nilai perdagangan tahunan Iran—yang mencapai 109,7 miliar dolar AS—bergantung pada akses jalur tersebut. Jika jalur laut tidak terbuka, fasilitas penyimpanan minyak Iran diperkirakan cepat penuh dalam hitungan minggu karena produksi tidak dapat disalurkan.
Analisis dari Foundation for Defense of Democracies menilai penghentian ekspor akan berdampak langsung terhadap nilai tukar mata uang Iran. Tekanan semacam ini diharapkan dapat mempersempit ruang gerak ekonomi Teheran sekaligus meningkatkan biaya politik bagi para pengambil keputusan di Iran.
Meski demikian, terdapat keraguan apakah kepemimpinan Iran akan merespons sesuai perhitungan yang diharapkan Gedung Putih. Laporan tersebut menyoroti bahwa sejumlah lawan AS di Timur Tengah dalam sejarahnya kerap tidak menempatkan kepentingan ekonomi sebagai prioritas utama, melainkan mempertahankan ideologi dan kedaulatan rezim.
Para pemimpin di Teheran juga disebut telah menunjukkan toleransi tinggi terhadap penderitaan masyarakatnya demi menjaga kelangsungan kekuasaan di tengah sanksi. Kemampuan bertahan setelah kehilangan tokoh-tokoh penting serta tindakan keras terhadap oposisi internal dinilai menjadi indikasi bahwa Iran siap menghadapi tekanan ekstrem, sehingga hasil akhir dari strategi blokade ini tetap tidak pasti.