BERITA TERKINI
BPS: Neraca Dagang RI Semester I 2025 Surplus USD 19,48 Miliar, Kontributor Terbesar AS

BPS: Neraca Dagang RI Semester I 2025 Surplus USD 19,48 Miliar, Kontributor Terbesar AS

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juni 2025 (semester I 2025) mengalami surplus sebesar USD 19,48 miliar. Angka ini meningkat USD 3,90 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan surplus tersebut ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat surplus USD 28,31 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit USD 8,83 miliar.

Sepanjang semester I 2025, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 135,41 miliar atau naik 7,70% dibandingkan periode yang sama 2024. Pada saat yang sama, nilai impor mencapai USD 115,94 miliar, meningkat 5,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi negara mitra dagang, penyumbang surplus terbesar pada semester I 2025 adalah Amerika Serikat sebesar USD 8,57 miliar, diikuti India USD 6,59 miliar, dan Filipina USD 4,40 miliar. Adapun defisit terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar minus USD 9,73 miliar, disusul Singapura minus USD 3,09 miliar, dan Australia minus USD 2,66 miliar.

Berdasarkan komoditas, surplus neraca perdagangan semester I 2025 terutama didorong oleh lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) dengan surplus USD 15,74 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) sebesar USD 13,28 miliar, serta besi dan baja (HS 72) sebesar USD 9,04 miliar. Sementara defisit utama berasal dari mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan defisit USD 13,40 miliar, mesin dan pelengkapan elektrik (HS 85) defisit USD 5,26 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) defisit USD 3,72 miliar.

Pudji menjelaskan surplus perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat didorong oleh komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), pakaian dan aksesori rajutan (HS 61), serta alas kaki (HS 64). Untuk India, surplus terbesar berasal dari bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), serta besi dan baja (HS 72). Sementara surplus terbesar terhadap Filipina terjadi pada kendaraan dan bagiannya (HS 87), bahan bakar mineral (HS 27), serta lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15).

Di sisi lain, defisit nonmigas terbesar terhadap Tiongkok didorong oleh mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Pudji juga menyebut untuk Australia, defisit terbesar berasal dari serealia (HS 10), bahan bakar mineral (HS 27), serta logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71). Adapun untuk Brasil, defisit terbesar berasal dari ampas dan sisa industri makanan (HS 23), gula dan kembang gula (HS 17), serta kapas (HS 52).

Selain kinerja semesteran, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2025 mengalami surplus USD 4,10 miliar. Surplus ini terjadi selama 62 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus Juni 2025 ditopang oleh surplus nonmigas sebesar USD 5,22 miliar, dengan komoditas penyumbang utama lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). Sementara neraca perdagangan migas pada Juni 2025 tercatat defisit USD 1,11 miliar, dengan penyumbang defisit berupa minyak mentah dan hasil minyak.