Bursa saham Asia ditutup melemah pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026, ketika perhatian investor tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Tekanan pasar muncul bersamaan dengan kenaikan harga energi global dan perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga, yang kemudian berlanjut ke pembukaan pasar Eropa serta pergerakan komoditas pada hari yang sama.
Pelemahan berlangsung cukup merata di sejumlah bursa utama. Indeks Nikkei225 Jepang turun 2,79 persen ke 51.885, sementara Topix merosot 2,94 persen ke 3.542. Di Korea Selatan, Kospi melemah 2,97 persen ke 5.277, sedangkan Taiex Taiwan turun 1,80 persen ke 32.518. ASX200 Australia juga terkoreksi 0,65 persen ke 8.460.
Di China, pergerakan pasar cenderung lebih tertahan. Shanghai Composite naik tipis 0,24 persen ke 3.923, sementara Shenzhen turun 0,25 persen dan CSI 300 melemah 0,24 persen. Hang Seng di Hong Kong turut melemah 0,81 persen ke 24.750, menegaskan tekanan di kawasan Asia-Pasifik.
Pergerakan di pasar mata uang juga mencerminkan sentimen risiko global. Yen Jepang menguat 0,37 persen ke 159,71 per dolar AS, seiring pergeseran dana ke aset defensif. Sementara itu, sejumlah mata uang Asia melemah, termasuk rupiah yang turun 0,13 persen ke 17.002 per dolar AS, dolar Australia yang turun 0,26 persen ke 0,6856, dan ringgit Malaysia yang melemah 0,46 persen ke 4,0305 per dolar AS. Yuan China turun tipis 0,02 persen ke 6,9123 dan dolar Singapura melemah 0,10 persen ke 1,2892.
Di sisi lain, baht Thailand menguat 0,11 persen ke 32,866, disusul rupee India yang naik 0,08 persen ke 94,74 per dolar AS.
Memasuki sesi Eropa, tekanan berlanjut. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 dibuka turun 0,3 persen, dengan sektor otomotif, perbankan, industri, dan jasa keuangan bergerak di zona negatif. Kondisi ini menunjukkan sentimen kehati-hatian masih mendominasi keputusan investor di awal perdagangan.
Sejalan dengan pelemahan saham, pasar komoditas terutama energi justru melonjak. Harga minyak Brent naik 3,5 persen ke USD116,51 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat 1,87 persen setelah sebelumnya sudah naik 5,5 persen. Kenaikan terjadi di tengah eskalasi konflik yang meluas, termasuk serangan kelompok Houthi terhadap Israel serta meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk.
Lonjakan harga energi turut mendorong komoditas lain, seperti gas, pupuk, aluminium, hingga bahan bakar transportasi. Dampak berlapis ini memperbesar tekanan pada biaya produksi global, dengan Asia dipandang rentan mengingat ketergantungannya terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak juga mulai mengubah ekspektasi kebijakan moneter global. Pasar kini mengindikasikan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh Federal Reserve tahun ini, berbalik dari ekspektasi pemangkasan 50 basis poin sebulan sebelumnya. Pergeseran ini menandakan tekanan inflasi kembali menjadi faktor utama dalam pembentukan arah kebijakan.
Rangkaian pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana satu sumber risiko dapat menjalar ke berbagai lapisan pasar secara bersamaan, mulai dari bursa saham yang melemah, fluktuasi mata uang, hingga lonjakan komoditas yang memperkuat kekhawatiran inflasi.