Bursa saham Asia kompak melemah pada Senin (30/3) seiring kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan energi. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia ditutup turun tipis setelah sempat melemah lebih dalam pada perdagangan intraday.
Harga minyak Brent naik 3,8% ke kisaran US$116,9 per barel pada Senin pagi dan stabil di sekitar US$115,4 per barel pada sore hari. Kenaikan ini didorong meningkatnya kekhawatiran pasokan energi setelah serangan rudal militan Houthi ke Israel sejak akhir pekan. Kelompok Houthi menyatakan akan melanjutkan serangan hingga Israel menghentikan serangan ke Iran dan kelompok militan proksinya.
Perkembangan tersebut dinilai berpotensi menambah risiko baru bagi pasar minyak global. Meski Houthi tidak menyebut akan menargetkan kapal yang melintas di Laut Merah bagian selatan, Bloomberg melaporkan kelompok itu memiliki kemampuan untuk melakukannya. Pada 2023, Houthi pernah secara efektif menutup Laut Merah bagi sebagian besar pengiriman barang negara-negara Barat menyusul perang Palestina–Israel.
Di pasar saham, indeks Nikkei turun 3,09%, Kospi melemah 2,97%, dan ASX 200 turun 0,72%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan di Wall Street pada Jumat (27/3), ketika S&P 500 turun 1,67% ke level terendah tujuh bulan dan mencatatkan zona merah selama lima pekan beruntun.
Di Indonesia, IHSG ditutup melemah 0,08% ke level 7.091,7, meski sempat turun hingga 2,14% pada perdagangan intraday. Arus dana asing tercatat keluar Rp686,1 miliar. Nilai tukar USD/IDR berada di 16.992 atau naik 0,16%, sementara harga emas tercatat di 4.561 atau naik 0,82%.
Pergerakan komoditas lain juga menguat, antara lain batu bara di 146,3 (+1,67%) dan CPO di 4.772 (+3,04%). Sementara itu, nikel berada di 17.186 (-0,39%). Dalam perdagangan saham, beberapa emiten terkait batu bara dan CPO mencatat penguatan, di antaranya Adaro Andalan Indonesia (AADI) naik 8,9% dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik 4,3%, sementara Triputra Agro Persada (TAPG) naik 7,9% dan Dharma Satya Nusantara (DSNG) naik 8,1%.
Dari sisi geopolitik, Presiden Donald Trump pada Minggu (29/3) malam waktu setempat mengatakan AS dan Iran telah bertemu “secara langsung dan tidak langsung” serta menyebut para pemimpin baru Iran “sangat masuk akal.” Pernyataan ini muncul setelah Pakistan, yang bertindak sebagai perantara, menyampaikan kesiapan menjadi tuan rumah pembicaraan untuk mengakhiri perang. Di sisi lain, Iran memperingatkan akan menyerang tentara AS jika militer AS berupaya masuk ke wilayah Iran, di tengah laporan bertambahnya pasukan AS yang tiba di Timur Tengah.
Sejumlah saham tercatat menjadi pelemah utama, termasuk Hartadinata Abadi (HRTA) turun 7,95%, Chandra Asri Pacific (TPIA) turun 5,47%, Vale Indonesia (INCO) turun 4,67%, dan Merdeka Copper Gold (MDKA) turun 4,02%.
Di luar pergerakan pasar, beberapa agenda dan aksi korporasi turut menjadi perhatian. Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan melanjutkan mandatori biodiesel B50 pada tahun ini setelah rencana tersebut sempat dibatalkan pada Januari 2026. Bank Indonesia juga mengimplementasikan transaksi repo valuta asing dengan underlying Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI), yang ditujukan sebagai alternatif pengelolaan likuiditas valuta asing serta untuk membantu stabilitas rupiah dan pendalaman pasar keuangan.
Selain itu, Barito Renewables Energy (BREN) mengumumkan percepatan pengakhiran periode buyback saham dari semula 3 Mei 2026 menjadi 1 April 2026. Ramayana Lestari Sentosa (RALS) mengalihkan sekitar 203,5 juta saham treasuri kepada pengendali dengan harga Rp480 per saham dan membukukan kerugian pengalihan sekitar Rp34,9 miliar. Tripar Multivision Plus (RAAM) berencana menggelar rights issue hingga sekitar 1,4 miliar saham baru dengan potensi dilusi hingga 16,67% yang akan dibahas dalam RUPSLB pada 5 Mei 2026. Sementara itu, Direktur Utama Abadi Nusantara Hijau Investama (PACK) membeli sekitar 30,1 juta saham, dan Envy Technologies Indonesia (ENVY) berencana mengakuisisi 99% saham PT Delapan Media Komunikasi.
Dari sisi kinerja emiten, Bumi Resources (BUMI) mencatat laba bersih US$52 juta pada 4Q25 dan laba bersih 2025 sebesar US$81 juta atau naik 20% secara tahunan, didukung ekspansi margin. Bank Negara Indonesia (BBNI) membukukan laba bersih bank only Rp1,7 triliun pada Februari 2026 dan Rp3,4 triliun sepanjang 2M26. Erajaya Swasembada (ERAA) mencatat laba bersih Rp410 miliar pada 4Q25 dan Rp1,2 triliun sepanjang 2025. Kalbe Farma (KLBF) mencatat laba bersih sekitar Rp1 triliun pada 4Q25 dan sekitar Rp3,7 triliun sepanjang 2025. Archi Indonesia (ARCI) mencatat laba bersih US$31 juta pada 4Q25 dan US$102 juta sepanjang 2025.
Di sektor lain, manajemen Midi Utama Indonesia (MIDI) menyebut tengah mempertimbangkan peningkatan dividend payout ratio menjadi 50% untuk dividen tahun buku 2025. Perusahaan Gas Negara (PGAS) melaporkan volume penjualan gas 784 BBtud selama 2M26, sementara Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) menargetkan marketing sales 2026 sebesar Rp4,3 triliun. Chandra Asri Pacific (TPIA) menyatakan status force majeure akibat disrupsi Selat Hormuz tidak menghentikan seluruh kegiatan operasional, dengan aset tetap beroperasi di sekitar 80%.